Tentang Kita dan Rentang Kota

Selalu ada yang salah sekaligus benar di hadapan perpisahan. Seperti orang diabetes yang menjauhkan gula dari lidah, langkahku meninggalkanmu tertahan antara kesibukan dan kerinduan. Orang-orang butuh rasa manis – selain telepon genggam – untuk bertahan bahagia. Mereka datang ke kafe dan memesan apa saja yang tidak pahit. “Kopi hanya untuk penyair atau hati yang patah atau kedua-duanya.” Mereka tidak tahu, puisi paling manis lahir dari kepahitan semacam itu.
Kubayangkan jejak yang ditinggalkan kereta mengalir serupa sungai dan aku ikan yang berenang-tenang melawan arus. Riak-riak air membawaku menjauh setiap kali kurasakan kau telah dekat. Kebisingan kota memotong batang-batang hutan, mengeringkan sungai, dan menjadikan kau kehidupan yang tersisa. Aku tinggal tulang-tulang ikan berenang-senang dalam genangan puisi ini.
Sejak kepergianku, suara terdengar bisu. Kata-kata kita diam-diam meneriakkan diri. Mereka tak ingin kalah dan merasa bersalah melawan rindu. Jika ada yang harus kalah, biarkan itu selalu aku dan memilikimu jadi satu-satunya rasa kemenangan.
Aku tidak pernah ingin punya banyak hal. Dari semua yang tidak aku miliki, langit adalah perihal yang bisa aku bagi denganmu. Segala yang hijau semisal pohon atau anak muda adalah ketidakpantasan. Mereka mudah terbakar dan menghembuskan asap. Aku juga tidak ingin memiliki jarak. Ia dosa yang hanya bisa ditebus dengan kecupan. Sementara bibirmu tak cukup dekat untuk menjangkau keningku.
Dalam rentang kota yang jauh, bisa saja segala hal yang manis di mataku mungkin tak mampu kucegah jatuh sebagai sesuatu yang asin di bibirmu. Setiap malam aku berdoa, semoga kau tidak mengidap hipertensi.

Tentang Hubungan Egois dan Romantis

Anyway di post kali ini gw mau membahas relasi 'ego' dengan sikap romantis. hal ini terinspirasi dari pengalaman masa lalu dan curhatan temen yang punya pacar gengsinya ampun-ampunan.gw mulai mengobservasi dan mensinergikan semua pengalaman dan akumulasi curhatan temen-temen gw.

Enaknya pake metode apa ya disebutnya? pendekatan psikologis enggak. pake pendekatan fenomenologi enggak juga. ini cuma analisa sotoy-sotoyan gw yang mencoba untuk mengerti posisi cowo.

apa pacar kalian gak romantis? ada beberapa hal yang bikin cowok gak romantis dan pos ini gw mencoba untuk membedah pola pikir pria kenapa dia bisa jadi gak romantis dengan bingkai ilmu feminisme (kesetaraan) which in a relationship we should be a subject. both of us, walaupun tidak menutup kemungkinan kita bisa bertukar dan membagi peran menjadi objek-subjek tetapi selama proporsinya masih setara it is okay.

Sebagai perempuan yang dibesarkan dengan film-film disney princess gw setengah mampus berharap mempunyai pasangan yang seperti pangeran yang super maskulin yang romantis. tapi standar romantis setiap orang berbeda atau kita bisa sebut bahasa cinta. 

kenapa dia bisa gak romantis?

relasi romansa yang gw bangun adalah seiring bukan digiring. kami menolak relasi peniadaan. dia memperlakukan gw sebagai patner yang setara dan gw juga begitu. kadang kami bermain peran tapi tidak merubah rupa asli kami yang seutuhnya. intinya kami berelasi dengan tetap menjadi diri kami masing-masing.

gw membuat hipotesa sotoy bahwa ada hubungan antara tingkat keegoisan dengan sikap romantis.

kok bisa zy?

untuk menjadi romantis (membahagiakan pasangannya) berarti si orang (bisa cewek bisa cowok) mau untuk merubah posisi dirinya menjadi objek despite they have being subject in this relationship. I mean, being romantis mean sacrifice. apa yang di korbankan adalah harga diri-pride-gengsi.

untuk menjadi romantis juga dibutuhkan kemampuan empati untuk menelisik standar 'romantis' pasangan atau bahasa cinta dari pasangan. misal ada cewek yg baru dipuji dikit bisa bilang pacarnya romantis tapi ada cewek yang dipuji sama pacarnya ya biasa aja karena emang dia tau dirinya cantik dan semua orang mengakui kecantikannya (eh cadi curhat :p). Nah biar kita ga salah memperlakukan pasangan, ada baiknya kita tahu beberapa bahasa cinta:
1. words of affirmation
misal ada cewek yg baru dipuji dikit bisa bilang pacarnya romantis atau ada cowo yang suka dipuji keren pas main bola
2. Quality time
Misalnya beres cape pulang kerja atau kuliah, kalian menghabiskan waktu berdua selama berjam-jam
3. Receiving Gifts
Hadiah ini bisa berupa aja, biasanya yang suka dikasih hadiah gak akan liat hadiahnya mahal ataupun murah
4.Act Of Service
Artinya dilayani. Misalnya dibukakan pintu atau dimasakin
5. Physical Touch
Sentuhan fisik bukan berarti tentang seks yaaa. maksud sentuhan fisik disini misalnya pegang tangan, pelukan hangat, usapan halus di kepala. Kalo mau tau bahasa cinta yang dipake pasangan, coba liat respon dia pas ada temennya sedih, kalo responnya menepuk punggungnya berarti salah satu bahasa cinta pasangan adalah sentuhan fisik.

See? Mudah kan untuk tau bahasa cinta dari pasangan..

Tapi ya untuk menjadi romantis, kamu harus bersedia mengganti posisi dari subjek menjadi objek dalam hubungan percintaan ini. bersedia jadi orang yang membahagiakan. bukannya cinta begitu? siapa yang paling cinta dia yang selalu salah. sama dengan bersikap romantis, kamu butuh untuk meruntuhkan beberapa ego, bersedia menelusuri dan mengerti standar romantis yang dianut pasangan sehingga kamu bisa tau apa kira-kira tindakan 'romantis' yang bisa bikin pasangan kita kelepek-kelepek.

tujuan untuk bersikap romantis kan agar si pasangan kita melting dan bahagia. memposisikan si pasangan sebagai subjek dan kita yang jadi objek.

orang egois akan fokus pada dirinya sendiri. gw tidak melarang bersikap egois. bersikap egois itu penting loh, karena cuma kita yang bisa dan tau bagaimana mencintai diri kita sendiri.

tapi egois ini juga yang membenturkan kita pada dinding ketika mencoba membahagiakan pasangan dengan bersikap romantis I mean, dengan selalu melihat diri kamu sebagai center of the universe (i believe in that) kamu lupa bahwa perintilan-perintilan disekeliling kamu juga membantu kamu untuk survive. jadi kadang kamu harus memposisikan diri sebagai perintilan itu sehingga perintilan itu melakukan tugasnya dengan baik.

empati itu gak mudah, tapi sekalinya kamu pakai teknik ini dalam membaca kepribadian orang. kamu akan dengan mudah membaca orang seperti pembaca pikiran.

oke balik lagi,

jadi, misalkan ada pasangan baik cowo maupun cewe yang sama-sama egois. siapa yang berpeluang lebih besar untuk bisa menjadi romantis?

jawabannya si perempuan.

kenapa?


karena perempuan melalui sosialisasi berdasarkan gender dikonstruksikan oleh masyarakat lebih ditolerir dalam menunjukan ekspresi dan emosinya. kalau cowok nangis, pasti kita ledek-ledek kan. kalau perempuan nangis di muka umum kita anggap biasa (kita kejam ya, padahal kan menangis cuma bentuk ekspresi)

perempuan akan lebih diterima dalam mengungkapkan emosinya seperti sedih, marah, bahagia, dst. gw pernah tuh nonton film judulnya 'always' itu pemeran cowoknya kaya batu dibuat sok tegar mulu. konstruksi kaya gini cowok gak boleh berekspresi yang bikin kesempatan pria kena penyakit jantung lebih besar dari perempuan!

laki-laki akan dihargai dnegan membungkam emosinya. sedangkan perempuan akan lebih mudah menunjunkan emosinya karena masyarakat memberi ruang. akibatnya, perempuan lebih mudah untuk bisa berempati.

jika gw, perempuan dalam hubungan ini bersedia untuk meruntuhkan ego dan mencari tau standar romantis pasangan gw ini. maka gw bisa bersikap romantis. sedangkan buat pihak cowo akan lebih susah karena melewati dua tahapan yg ditentang masyarakat tersebut.


nah gitu.


tulisan ini bukan kode biar jadi romantis. ini cuma murni observasi gw kok. gw juga baru sadar karena gw penganut bahasa simbolik yang konsentrasinya sering terganggu gw jadi kurang peka dan gak bisa membaca kode. gw juga suka diledek polos dan naif jadi gampang dikibulin. huft. padahal gw cuma penganut bahasa simbolik.

anyway berpikir positif itu seru loh!

Manusia Tidak Sempurna

Gw mau coba pake psikoanalisa untuk ngebedah kenapa perempuan suka menjadi "angel in the house" ? oke karena konstruksi sosial

perempuan-perempuan banyak yang tidak punya identitas karena cita-cita dan kemauannya ini diatur sedemikian rupa oleh pria-pria dilingkungannya.

anyway si perempuan jadi kehilangan identitas karena diarahkan, digiring untuk menjadi serba bisa. malaikat di rumah. istri yang soleha adalah istri yang mampu melayani suami, masak, mencuci, nyetrika, beresin rumah, ngelipetin baju, Semuaaa dalam satu hari. kita mau jadi istri atau mau jadi TKW?  kadang suka samar.

 
Sampai pada tahap yang paling ekstrim dipaparkan oleh Nawal dalam novel Perempuan di titik nol, 

"Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak"

Lebih lanjut eka kurniawan, melalui tokohnya Dewi Ayu dalam novel Cantik itu luka pun memaparkan hal yang serupa 
"Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada.”

suami atau laki-laki harusnya mengertiad kalau perempuan itu manusia, perempuan enggak bisa sempurna.Dalam urusan domestik laki-laki pun bisa ikut membantu memasak atau mencuci piring. Karena rumah tangga dibangun oleh keduanya bukan hanya oleh perempuan. laki-laki pun harus bisa masak karena masak, menyebrang jalan, dan mengendarai adalah skill bertahan hidup. gak ada bedanya laki-laki dan perempuan. semua harus bisa masak!

kalian udah baca berita tewasnya beberapa orang karena miras oplosan? coba perhatikan, semua pengkonsumsi miras yang tewas semuanya LAKI-LAKI.

ini sedihnya modernitas, pola pikir ini membuat kita selalu berlomba untuk menjadi lebih dari yang lain, termasuk pada maskulinitas. kejantanan diperlombakan.

coba kita pakai pola pikir umum kenapa sih mreka tewas? karena mereka bodoh? udah tau minum alkohol diatas kadar 60% jelas aja mokad?!?!?

enggak, mereka adalah korban patriarki.

mereka, para lelaki naas ini sedang adu kejantanan dengan "barangsiapa paling jantan, tidak mati bunuh diri". mereka sesungguhnya mengerti dampak dari miras oplosan yang bisa memisahkan tubuh dnegan nyawa mereka tetapi patriarki meminta mereka untuk berlomba. harga diri mereka ditaruhkan dalam sbuah kontes kejantanan berujung maut, mereka yang mengelak berarti menawar harga diri menjadi paling rendah. mereka dianggap gagal menjadi laki-laki. mereka menukar status keperkaasaannya dengan nyawa.
tewaslah mereka.

dan kita, cuma bisa mengutuk, meratuk, terduduk.
menyesali janda-janda yang ditinggal mati suami. kemiskinan masih menjerat mereka semua. sungguh siapa lagi yang akan mengira.


Kita harus faham gender, karena kita hidup dengan relasi perempuan dan laki-laki didalamnya
Gagal memahami gender, berarti gagal memahami realitas!

Flight

Ada terlalu banyak serpihan hati yang tertinggal di bandara, termasuk milikku.
Terserak, terinjak kaki manusia yang lalu lalang, sementara aku masih bersusah payah mencari milikku. Udara semakin pekat ketika aku berdiri di depan keberangkatan domestik menghirup nafas yang saling bertukar cerita, tertawa, sementara aku masih mematung di garis yang sama.
"Aku seharusnya tak datang. Aku seharusnya tak ada disini."
Aku terlambat..
Aku ingin sekali mencuri detak jantungmu, mencuri nafasmu, dan mencuri wangi tubuhmu. Namun aku hanya berdiri, berjarak dari semua mimpi yang diajarkan stasiun televisi.
Berulang kali aku harus menelan nafasku sendiri, karena tawa dan cerita di sekitarku makin pekat.
"Aku mau pulang..."
Aku ingin sekali pulang dengan gegas, karena air mata ini sudah tak dapat kukeringkan. Aku malu. Aku tak punya uang yang cukup untuk membeli kata-kata. Aku terasing, tersisih, tersingkir. Yang bisa kucuri darimu hanyalah sebuah bayangan dan ucapan selamat tinggal.
Sayang, aku tak punya cukup uang untuk membeli perhatian.
Aku masih mematung, mengamati hiruk pikuk manusia melepas kepergian. Aku masih berharap dapat membeli waktu untuk sekedar ucapan selamat tinggal atau mengamati senyum dan kedipan mata mu atau sekedar usapan kepala yang    membuatku tak berdaya.
Dalam kata pulang yang teramat singkat aku menahan tangis. Hingga ia menguap di pelupuk mata, tanpa sisa. Aku bahkan lupa untuk memunguti hati kecilku yang berserakan tadi.
Selamat jalan, sayang. Hati-hati di jalan. Titip hatiku yang menunggumu pulang.

Cinta , Tanpa tanda baca

Sejujurnya, aku tak bisa bercerita. Ada sesuatu yang mampu membuatku kehilangan kata - kata. Akh, bukan sesuatu, tapi seseorang. Bahkan aku malu menyebutkan namanya.

Aku harus memulai dari mana, pun aku tidak tahu. Ada rasa yang bertumbuh dan bertambah-tambah.

Kamu sebut ini cinta? 
Mungkin. Aku bahkan tidak berani menyebutkan namanya.

Aku pernah jatuh cinta.
Beberapa kali.
Tapi kali ini, aku bahkan sulit mengejanya.
Ini seperti rindu yang tiada habisnya.

Gila, kamu bilang? Tidak.

Aku tidak tergila-gila seperti cinta sebelumnya. Ini bukan cinta dengan tanda seru dimana-mana. Akh, susah sekali menjelaskannya. Tapi aku tahu, kamu juga merasakannya.

Kamu pernah menanam pohon, atau paling tidak mencoba? Mungkin rasanya seperti itu. Ini rasa yang tumbuh perlahan dalam diam. Ini cinta yang dipupuk perlahan. Ini cinta kecil yang tidak menggigit, tidak meledak-ledak, tidak meluap-luap. 

Ini adalah cinta yang tiap malam kamu rindukan, bukan kamu impikan dan idam-idamkan.
Ini adalah rindu yang diam-diam kamu panjatkan dalam doa.
Ini adalah rindu yang bisa membuatmu menangis, bukan rindu yang membuatmu berharap.
Ini adalah rindu yang mengetuk dari dalam dan selalu punya cara membuatmu luluh dan terdiam, bukan cinta dengan jutaan kupu-kupu yang adu cantik di perutmu.

Aku rindu...sangat rindu.
Seperti kecintaan pada sesuatu yang kamu tunggu.
Seperti kotak kecil kesayangmu yang diam-diam kamu simpan, padahal ingin sekali kamu tunjukkan.

Mungkin ini cinta. Akh, tapi jangan sebut dulu ia demikian.
Apa aku sudah terdengar menjijikan?

Ini cinta, tanpa tanda baca.

Refleksi Eks-Mahasiswa

Setelah lulus kuliah 3,5 tahun mau ngapain itu sebenarnya kalimat yang berentetan dengan kalimat waktu kuliah ngapain aja?

gw belajar dunia nyata ini ya benar-benar pas selesai kuliah. dunia emang kejam. ya, kejam. satu-satu yang bisa menyelamatkan lu adalah uang. uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. beberapa kerjaan emang gak bisa diukur pakai uang. tapi pastikan keuntungan. ampun deh gw bener-bener matre abis.

dan percayalah, koneksi itu benar-benar membantu kamu untuk mendapatkan pekerjaan. untuk gw, yang sebenernya enggak punya pekerjaan tetap ini. gw masih ngegarap beberapa proyekan, belum lagi keisengan gw daftar relawan di pulau NTB yang kemudian lolos.Ya Gw masih dalam fase persimpangan. masih pengen bebas. gw bisa aja ambil pekerjaan tetap tapi nanti gw bakalan berkarier. dengan pekerjaan proyekan (freelance) gw banyak belajar bagaimana pencitraan diri, memberi nilai pada diri gw sendiri, memanfaatkan networking, mengatur waktu. dan ya memang masih muda harusnya banyak-banyak belajar. ini adalah saat gw belajar bagaimana dunia ini bekerja.
gw paham kalau pendidikan memang benar-benar membantu kita untuk mobilitas ke atas. kalau kamu pintar itu sangat berguna untuk bertahan hidup. and it really is. we selected our peers. we are really the selfish gene. here is nothing wrong or bad. if you do not want to break your confort zoned. you'll be there, forever. keberanian dan keras kepala.

apa kamu mau menutup telinga untuk suara bising yang bilang kamu tidak bisa apa-apa?

apa kamu mau menyuarakan apa yang kamu mau dan apa yang kamu butuhkan?

apa kamu mau membuang hal-hal yang membelenggu kamu untuk terus maju?

apa kamu berani merasakan hal-hal yang selalu kau ingin rasakan>

kata-kata tidak ada artinya kalau kita cuma cerna mentah-mentah. bahasa adalah pusat dari segala dan mereka menyerap pada sumsum tulang belakang. mempengaruhi hal-hal yang tidak kita sadari.



gw sedang menikmati balik ke habitat, mengenal dan menyelami tempat tinggal gw secara utuh. membangun networking dengan birokrasi daerah, menyelami keragaman budaya dan kearifan lokal. Yang terpenting, dimanapun tempatnya asal tetap MERDEKA.  Dan gw masih 21 tahun.

gw bahagia.


nikmat Tuhan lagi yang hendak kau dustakan, zy?

Oh ya, tulisan gw dimuat hari ini di koran lokal daerah tetangga





RITUAL MALAM MINGGU PENGHUNI KELOMPOK 275

Penghuni kelompok 275 adalah manusia yang sangat mandiri dan ga bergantung pada orang lain kecuali ibu kos, kuota internet dan petugas PLN. Daripada ngabisin duit dengan keluar rumah, mereka lebih memilih untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat anti mainstream. Memang, kegiatan yang dilakukan ga menghasilkan uang atau memunculkan pacar, tapi setidaknya menghasilkan kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Tetangga dan orang lain ga bisa ngerasain. Privasi. Seorang diri.
Di tempat KKN kita ga bisa melakukan ritual-ritual yang biasa dilakukan di Bandung. Nah biasanya kegiatannya lebih kreatif dan inovatif dalam mengisi kekosongan malam minggu kami. Setelah mengadakan observasi terhadap penghuni kelompok 275, ternyata kegiatan yang di canangkan ga kalah menarik dengan perayaan ulang taun bocah SD? Yuk kita simak.
Music performance. Ini keren banget. Dengan bermodal gitar dan suara pas-pasan, penghuni kelompok 275 bisa bikin gebrakan. Kelompok kami jago banget dalam hal music performance. Lagu-lagu yang dibawakan biasanya lagu sendu nan romantis, bikin sedih dan terenyuh. Namanya aja malam minggu, ga sedih ya ga afdhol. apalagi yang jomblo, Umumnya jomblo tampil live dalam music performance-nya di depan speaker.
Be a chef. Penghuni 275 pada malam minggu sangat menikmati peran gandanya yang sebetulnya udah diketahui khalayak. Yup, jadi koki. Masak indomie rebus atau goreng dengan berbagai topping yang menarik agar ga bernasib sama dengan dirinya. Sendirian. Kesepian. Butuh kasih sayang. Misalnya si mie dikasih sosis dan telor, sosis doang, telor doang, atau cuma bawang goreng kalo ekonomi dompet lagi susah. Kreatif ya?
Sholat Istisqa atau minta hujan banyak dilaksanakan oleh para penghuni 275. Waktunya sih ga terjadwal di papan pengumuman kantor karang taruna. Seenak jidat mereka aja maunya kapan yang penting minta hujan. Ada harapan terselubung ketika penghuni 275 melaksanakan shalat istisqa ini. Bukan ingin menghancurkan malming para manusia yang punya pasangan, tapi mereka ingin yang ga jomblo juga bersimpati atas apa yang mereka rasakan. dan yang lagi LDRan supaya pacar ga selingkuh di tempat sana.  Sekali-sekali ga malmingan agar duit hemat kan perlu juga.
Ngopi. Penghuni kelompok 275 selalu nyeduh kopi dengan air panas, bukan dengan aer tajin. Kalo kopinya macam cappuccino dingin juga oke. Ngopi adalah fasilitas yang disediakan alam semesta yang menghadirkan kepuasan total. Badan rileks, pikiran seger, kantong juga ga terlalu bolong karena harganya murah meriah. Tapi beda cerita kalo ngopinya di Setarbak. Habis ngopi di sana langsung jadi gembel.
Nonton drakor. Hidup itu dramatis, gan. Untuk lebih mendramatisir seluk beluk jomblo dan LDRan di malam minggu, kegiatan yang ini bagi beberapa orang sangat mengasyikkan. Nonton drakor atau drama korea. Sebetulnya bagi para penghuni kelompok 275 khusus cewe, nonton drama ginian tujuannya bukan mengikuti alur ceritanya. Sebagian sih memang iya. Tapi kebanyakan dari mereka suka mantengin muka-muka aktornya yang mulus abis. Laler aja sampe kepeleset lalu menderita encok kalo mendarat di pipi mereka. Dengan nonton cowok – cowok cakep itu, paling ngga ada hiburan tersendiri untuk dinikmati.
Maen Uno. Karena main uno merupakan hak segala bangsa, yang wajib ada dan terlaksana. Perlu taktik dan strategi yang matang buat menang, jaga mulut juga termasuk. kalo keceplosan kata-kata lain sih gak akan berabe, tapi kalo keceplosan kata UNO pas kartu masih banyak, siap2 nambah kartu lagi. Gak kebayang kalo UNO dihapuskan, penghuni kelompok 275 pasang muka mirip  zombi dibunuh bosan. Alat perangnya cukup pake bedak. Yang kalah, siap2 mandi bedak sebadan-badan.
Ini dia foto para korban banjir, eh korban main UNO
Bikin Wartel. Berterimakasihlah buat koneksi internet mutakhir abad ini. karena bagi para pejuang LDR, telpnan pas malming adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Tujuannya buat memantau pacar yang jaraknya jauh disana biar ga serong kanan serong kiri. Biasanya tempat PW pejuang LDR penghuni kelompok 275 buat telpnan di teras belakang kontrakan, bisa 3- 4 orang yang telpnan. Yaa, begitulah teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat
Kesurupan. Kalo kegiatan yang ini biasanya bukan kegiatan yang sengaja dilakukan. Dilakukan oleh jomblo yang hobinya ngelamun, jadi pas malem biasanya jiwanya kosong kayak bak mandi habis dikuras dan memudahkan mereka untuk dimasuki makhluk tak kasat mata. Kalo udah kesurupan biasnaya nyiumin tembok kosan atau guling bulukan sambil teriak: Mana pacaaar…? Mana pacaaaaar? Gitu. Tapi tenang, hal menakutkan ini akan berenti saat subuh tiba.
Jadi di tempat KKN meski keliatannya ngenes, sebetulnya membawa manfaat yang amat besar bagi diri. Ga harus pusing ngadepin omelan pacar yang mendadak PMS, duit bulanan awet dan ga harus drop out dari kampus akibat berantem mulu dengan pacar dan membuat tugas kuliah terbengkalai. Paling kepake buat beli paketan internet dan paket telpnan.
Itulah ritual malming penghuni kelompok 275, kalo kelompokmu gimana?
 
P.S: Tulisan ini ditulis pertama kali di https://desaramasarikknsisdamas2017.wordpress.com/2017/02/19/ritual-malming-penghuni-kelompok-275/

Senja

Terbangunkan Senja
Sore ini aku tersadar dari lamunan panjang disiang hari
Sore ini membawaku kedalam transformasi
Transformasi cerita hidup yang tak pernah berhenti
Kita meminta lebih
Kemudian sore ini berubah menjadi senja
Seketika semua memerah
Padam mengaharukan kata-kata
Kelam membiaskan asa
Kuusap mataku yang sayu
Kulihat semua semu
Sirat sendu

Akhirnya, Nulis di Blog lagi

Hampir 8 bulan gue ga nulis di blog. Frekuensinya setara dengan Ibu-ibu hamil yang kebelet pengen melahirkan. Gue pun sama , selama fase 8 bulan gue merasa bersalah Ga ngurusin blog. Alhasil, ini blog udah kek kandang ayam yang ga keurus, udah banyak sarang laba2, penghuninya jadi semut, kecoa dan tikus. Selama 8 bulan itu juga, gue harus pindah ke lain hati buat nulis masa KKN, tanggungjawab gue buat posting2 KKN harus rilis tulisan di blog yang udah disediakan oleh kelompok. Yang mau kenalan sama kelompok KKN 275 ini blog nya desaramasarikknsisdamas2017.wordpress.com. Well akhirnya gue disini, balik lagi ke rumah tercinta 💕
   
Bulan Januari mendekati masa KKN gue sempet kecelakaan, motor gue atraksi di jalan dan gue ke banting ke arah berlawanan. Untungnya cuma luka luar, kaki gue nyium aspal, plus bagian kulit perut gue yang nyium aspal. Aspal nya untung , gue yang rugi bandar!

Awal Februari gue berangkat KKN (Kuliah, Kerja , Nyantai) atau (Kuliah, Kerja, Nyatanya Main) bisa berubah kalo Malem jadi Kuliah, Kerja, Ngopi. Apapun namanya yang jelas tugasnya mengabdi ke masyarakat. Buat yang suka bilang anti sosial-sosial Club,  yaa mau gamau, harus kerja sosial yang sesungguhnya d masyarakat. Gue masuk kelompok 275, budak aredan tapi menawan, kelakuan goreng tapi mentereng, sengklek bin gesrek kek otak gue.

Fase gue KKN gue berkutat di laporan, skrip-skrip yang menentukan 3,5 tahun bangun pagi gue karena kelas sosial dan tetek bengek peraturan yang nonsense. Gue sampai pada masa-masa dramatis berkutat dengan skripsi melebihi pasangan di drama Korea yang saling mengasihi tapi gabisa nikah karena terganjal perbedaan status sosial, perbedaan agama, dan perbedaan jenis kelamin *yakali pisang makan pisang

Anyway, kisah asmara gue juga jungkir balik selama 8 bulan kek roller coster. Drama2 murahan FTV muncul di hidup gue. Gue hampir stres dan hampir ga akan beres kuliah 3,5 tahun.

Pada akhirnya gue sadar, jangan-jangan gue gini karena cinta juga kebutuhan modern. Mahal, percuma dan semu. Kalau tidak belum jadi makhluk kaliber Kiwari. Makhluk kontemporer yang berlagak paradoks. Sampai-sampai harus bikin pembenaran segala adanya Bohemian - Borjuis segala. Merayakan kesendirian sebagai Gaya hidup, lalu menjustifikasi selingkuh lewat lagu pop.


NERAKA MINI

Berisi orang-orang yang jahat, dihukum 
dengan disiksa sekeji-kejinya; dibakar, disembelih, ditusuk. 
Kemudian dihidupkan kembali lalu disiksa lagi. 
Agar sakitnya terasa seperti pertama kali.

Tahukah? Tuhan juga menciptakan miniatur neraka di dunia. 
Betapa Maha Jenius Dia,
 menciptakan satu hati untuk manusia. 
Sebagai alat untuk mengecap berbagai rasa; selain lidah tentunya.
Akan tiba waktunya hati terluka, ambyar, berceceran, nyeri. 
Kemudian kau.akan mulai berpikir bahwa setelah rasa sakit itu, 
kau tak kan lagi merasakan yang lebih buruk.

Hatimu sembuh.

Kemudian sesuatu terjadi lagi. 
Hatimu menjadi korban lagi.
 Sempat berharap bahwa kau akan terbiasa dengan sakitnya. 
Dengan spekulasi sudah pernah merasakannya.

Salah.

Tuhan telah sedemikian rupa mendesain hati. 
Berkali-kali pun kau patah hati. Akan terasa seperti pertama kali.
Sakitnya seperti kembali mengulangi.
Tuhan memang Maha Humoris dan Maha Sarkastik. 
Sempat-sempatnya menciptakan neraka mini ini.

Kekerasan atas Perempuan dan Ketaksadaran Gender


Perempuan terus menerus dikekang dan dibuat tunduk oleh berbagai aturan dan kebijakan. Kekerasan ini, baik yang sifatnya kultural maupun struktural, kemudian menjadi sumbu kekerasan fisik dan represi. Dan salah satu faktor utamanya adalah tiadanya kesadaran (ketaksadaran) gender di kalangan masyarakat. Menilik fakta dewasa ini, perempuan dan kekerasan acapkali menyatu-padu ke dalam satu entitas, yakni kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan yang dialami pun beragam, tidak hanya secara fisik namun kekerasan secara psikis, seksual dan ekonomi. Penyakit kronis ini seolah telah mengakar kuat dalam sumbu kebudayaan masyarakat, terutama masyarakat yang menganut kebudayaan “machoisme”: menempatkan perempuan (oleh laki-laki) sebagai the second sex, bukan rekan setara. Kasus seperti ini seperti mengumpulkan butiran salju yang nantinya akan menjadi puncak gunung es dan meledak jika tanpa ada upaya atau penangan dini secara serius dan tepat sasaran.
Ya, publik tentu saja belum lupa bagaimana tragedi maut yang menimpa seorang bocah perempuan berumur 14 tahun bernama Yuyun. Di samping tragedi ini sangat mengejutkan dan menyita banyak perhatian publik, hal ini bisa menjadi pembuktian kita bersama bahwa siapa pun dapat menjadi korban kekerasan seksual. Tragedi ini bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat-tempat yang selama ini kita anggap aman sekalipun.
Pertanyaannya, bagaimana  kesemua hal tersebut harus kita respons?
Adalah hal yang tak patut diulur-ulur lagi bahwa penyakit “mematikan” ini perlu penangan serius lagi cepat. Bahwa tak ada upaya yang lebih efektif ketimbang memahami akar persoalan yang jadi sebab utamanya. Meski ada banyak hal yang mendasari lahirnya kekerasan terhadap perempuan ini, seperti kemiskinan, gangguan kejiwaan, minimnya tingkat pendidikan, dan serta kebudayaan yang melanggengkan budaya patriarki. Namun melepaskan pemahaman gender dari kasus akut semacam ini hanya akan melahirkan bias penyelesaian masalah. Justru yang timbul adalah sumber masalah baru, seperti framing penyalahan korban dan pembenaran si pelaku atas diri korban—yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Demikianlah fakta yang kerap kita jumpai di media-media.


Memberantas Ketaksadaran Gender
Tujuan utama pendidikan adalah penyadaran. Sebagaimana Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas-nya menegaskan, pendidikan tak lain sebagai upaya pembebasan kesadaran atau dialogika. Sampai saat ini saya masih percaya bahwa kekerasan terhadap perempuan lebih disebabkan oleh tiadanya kesadaran (ketaksadaran) atas gender. Ketaksadaran ini terjadi, baik pada diri si perempuan sendiri ataupun laki-laki pada khususnya, terutama masyarakat awam secara umum. Jadi, ini bukan semata soal buasnya seorang manusia atas diri manusia lainnya. Bukan soal adanya sikap kebinatangan dalam diri tiap-tiap manusia. Tetapi lebih jauh, lagi-lagi meminjam pandangan Freire, penjajahan masa kini adalah penjajahan kesadaran. Demikianlah maka upaya satu-satunya yang lebih efektif tak lain adalah menggagas pendidikan berbasis kesetaraan gender.
Di satu sisi, budaya patriarki memang masih sangat mendominasi pemikiran masyarakat kita. Sebagian besar masih menganggap bahwa relasi kesadaran gender adalah relasi yang sangat tabu. Membincangnya berarti membincang hal-hal yang tak patut atau tak layak dijangkau oleh manusia dengan akalnya. Sebuah tradisi masyarakat yang kolot, tradisi pemikiran yang masih dipenuhi kesadaran-kesadaran mistis. Masih patutkah kita bicara soal batas ketika realitas memaksa kita untuk menerobos hal-hal itu? Perempuan dibentuk, dikonstruksi, dan dicitrakan berdasarkan selera laki-laki semata. Dan ketika kekerasan terjadi pada diri si perempuan, yang kerap dituai adalah pembenaran atasnya. Bahwa ini adalah bentuk pendidikan terhadap perempuan. Mestikah hal ini didiamkan?
            Jika kita kelompokan secara garis besar maka masalah ketidakdilan gender diantaranya Subordinasi, Marjinalisasi, Stereotip (Labeling), Double Burdens (beban ganda) dan Kekerasan. Dari banyaknya persoalan yang dialami perempuan layaknya puncak gunung es, maka lahirlah sebuah gerakan pembebasan atas perempuan yang disebut dengan feminisme. Gerakan ini dibentuk sebagai manifesto ketidakadilan gender. Feminisme pun terbagi menjadi beberapa aliran, diantaranya feminisme liberal, feminisme Marxisme, Feminisme Radikal, Feminisme Sosialisme, Feminisme kontemporer dan Feminisme Muslim. Perlu kita sadari bahwa feminisme dan kesetaraan gender adalah pemahaman mutlak untuk kita bangun secara bersama-sama. Hal ini semata-mata harus kita tilik sebagai satu pembelajaran mengingat ketidakadilan gender muncul disebabkan oleh banyak faktor diantaranya penafsiran teks agama, kebijakan publik, budaya patriarkial, pendidikan dan kapitalisme.
Gender, Sex dan Sexsualitas
Menilik realitas hari ini, tak bisa dipungkiri memang bahwa banyak sebagian orang yang tak paham tentang apa itu gender dan bagaimana konsep gender itu. Apalagi ketika menganggap gender sebagai serupa dengan seks (jenis kelamin). Penyalahartian semacam inilah yang marak mengundang beragam konflik, yang hampir setiap hari kita jumpai dalam realitas kehidupan kita, baik di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi, bahkan Negara.
Menurut pemahaman saya, gender adalah pandangan atau keyakinan yang sudah dikonstruk oleh masyarakat mengenai relasi antara perempuan dan laki-laki yang bersifat non-kodrati artinya masih bisa dipertukarkan. Relasi antara perempuan dan laki-laki meliputi peran, sifat dan perilaku dan bersifat lokal. Misalnya, pandangan bahwa seorang perempuan ideal harus pandai memasak, merawat diri, lemah-lembut, atau keyakinan bahwa perempuan adalah mahluk yang sensitif, emosional, selalu memakai perasaan. Sebaliknya, seorang laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumah-tangga, rasional, tegas, dan sebagainya. Penghapusan atas pandangan inilah yang hendak dituju oleh gerakan-gerakan gender. Pada hakikatnya, ciri dan sifat itu sendiri merupakan hal yang dapat dipertukarkan. Artinya, ada laki-laki yang memiliki sifat emosional dan lemah lembut. Sebaliknya ada pula perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Karenanya, gender dapat berubah dari individu ke individu yang lain, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, bahkan dari kelas sosial yang satu ke kelas sosial yang lain.
Sedangkan Sex adalah jenis kelamin secara biologis antara laki-laki dan perempuan yang bersifat kodrati atau tidak bisa dipertukarkan yang merupakan pemberian Allah SWT. Sementara jenis kelamin yang biologis akan tetap dan tidak berubah, seperti perempuan memiliki vagina, payudara, rahim, ovum, mempunyai hormon progesteron, estrogen dan clitoris. Secara fungsi minor perempuan bisa menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui; sementara laki-laki memiliki jakun, penis, dan sperma, testis, scrotum dan hormon testoteron yang sudah ada sejak keberadaannya sendiri.
Sexsualitas merupakan konsep yang luas meliputi beragam aspek yang meliputi birahi, identitas seksual, orientasi seksual, ekspresi seksual, perilaku seksual dan kesehatan seksual. Orientasi seksual berarti pilihan seksual, artinya setiap individu berhak untuk memilih pilihan seksualnya. Orientasi seksual inilah yang melahirkan keberagaman diantaranya lahir LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgender, Interseks, Queer)
Sebuah Analisis
Apa yang telah dipaparkan di atas, paling tidak memberi sedikit kejelasan bahwa faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan, tak hanya lahir dari adanya orang-orang konstruktif yang memandang perbedaan perempuan dan laki-laki dalam porsi yang diskriminatif, tidak seimbang, melainkan juga pada pengimplementasian kesadaran gender secara tidak proporsional lagi kritis. Di sisi lain, ini juga disebabkan oleh adanya pemahaman ajaran agama tentang kesetaraan manusia yang dipahami secara salah kaprah, yang dipengaruhi oleh faktor sejarah, lingkungan budaya dan tradisi patriarki yang sangat menguat dalam kehidupan kebudayaan masyarakat.
Sebagai solusi, pendidikan gender mesti menjadi proyek besar bersama kita. Entah dengan jalan stuktural melalui pengimplementasian aturan-aturan atau kebijakan-kebijakan pemerintah terkait perempuan, kekerasan terhadap perempuan, atau keadilan gender, maupun dengan jalan kultural atau pemahaman tradisi keagamaan yang berbasis pada keadilan gender. Dengan begitu, optimisme kita akan keadilan bagi semua tentu akan benar-benar terwujud. Hal ini jika pemahaman akan kesadaran gender benar-benar kita jadikan sebagai panduan atau pedoman cara berpikir kita dalam memahami bagaimana kekerasan terhadap perempuan semestinya kita tangani. Dan cara ini, paling tidak mampu menjadi kunci bagi kita dalam mengakhiri lingkaran kekerasan terhadap perempuan.

*Tulisan ini adalah hasil refleksi mengikuti Short Course Islam dan Gender, 23-26 Mei 2017 
di Rumah Joglo Cirebon

RINDU



/I/
Cecap celoteh mengundang rindu
Bukan pada pita suara yang kerap
Menjatuhkan kerambil pada dahannya
Atau pada segenggam
Legam yang sering tercipta
Bersama keheningan

Aku merindukanmu melalui
Gumpalan awan kelabu
Di penghujung gerimis
Bekas genangan tempat
Itik bersemayam memantulkan
Kejernihan tatapan dari seorang kamu

Aku merindukanmu melalui
Sejumput warna pelangi
Yang saling berkejaran
Seusai hujan

Aku merindukanmu melalui
Hamparan senja berisi
Burung-burung camar
Kicauan mereka menghantarkanku
Pada dekap tubuh yang lekap
Dengan kayu-kayu keropos
Di dalam hutan kehampaan

Padahal aku hanya berbual

Aku merindukanmu seketika
Kata-kata dalam puisimu
Merambat santun lewat retina
Turun ke hati
Sesederhana itu

/II/
Tembok Layu
Tanah Basah
Caping diam
Hujan hanya isyarat
Untaian daun merapal
Lelaki masih bungkam
Membalas dendam
Kemarin dia tergugu kaku
Dalam harapan padang ilalang

Janji dan kunci
Sekarang perempuan ikut ganar
Dipayungi kerinduan



/III/
Waktu terkutuk
Gemar menjahit senja
Namun enggan menenun jingga
Aku hanya mengatakan sabda kerinduan
Yang terlanjur disekap ruang
Apakah kamu juga?

/V/
Cuaca rusuh
Hatiku gaduh
Mataku lengkap dengan pintu biru
Itu
Rindu

Bandung, 1 Januari 2017








(R)asa Tanpa Asa


Jika rasa sudah tak lagi bersama asa 

jika asa hanyalah sebuah kata

aku akan diam senyap tak bersuara


Ada kalanya aku ingin buta, bukan karena aku tidak menghargai karya-Nya, namun aku teramat takut jika melihatmu aku akan jatuh hati lagi.


Ada kalanya aku ingin bisu, bukan karena aku tidak bersyukur pemberian-Nya, namun aku takut kata cinta akan terucap dari mulutku.


Ada kalanya aku ingin tuli, bukan karena tuli itu menyenangkan, namun aku hanya takut jika mendengar suaramu, rasa ini takkan terbendung.


mungkin ini adalah rasa yang dipaksa


dipaksa untuk menghiatuskan rasa, hingga Esa kita sama,


tapi tunggu... apa salahnya ada rasa pada jembatan peraduan kita.


mungkin aku harus teriakkan pleidoi pada semesta agar kita bisa bersatu, bersatu di lembah pairidaeza


 

 

Catatan Gadis Puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review