SIHIR JIWA

Saat perasaan menafsirkan hasrat jiwa dan ku sibukan hati untuk menyimak rahasia-rahasia kalbu. Jantungku berdegup kencang begitu melihat wajahnya. Kembali aku terpukau  bagaikan seorang bayi yang menatap keajaiban dunia. Auranya menembus mataku, langkahnya menusuk telingaku. Tangan cinta telah menyatukan jiwamu dan jiwaku. Karena cinta adalah kekuasaan yang menciptakan hati, sedang hati tak mampu menciptakan cinta. Sayap keceriaan kita rajut bersama hingga membawa kita menuju arah cahaya.

Kau seperti sumber mata air yang memancar dari perut bumi di dataran rendah menjadi danau yang tenang, kemudian membiaskan cahaya rembulan dan gugusan bintang. Kau seperti simphoni sabda alam yang lebih segar dari bisikan-bisikan kehidupan, lebih pahit dari rintihan maut, lebih lembut dari gemerisik sayap dan lebih dalam dari nyanyian ombak. Simphoni yang berdenyut mengalun antara harapan dan putus asa, keyakinan dan keinginan yang menyesap dalam jiwa.  Kau laksana sihir jiwa yang membuatku seperti setangkai bunga mekar di taman hati. Ternyata, hidup ini ternyata lebih lemah dari maut, dan maut lebih lemah dari cinta. 

Namun keindahan itu hanya sesaat untuk ku reguk, kemudian menjadi bias yang tak mampu untuk ku rengkuh. Kau sihir jiwaku lagi seperti singa betina yang kehilangan anaknya, atau dasar lautan yang digetarkan pusaran angin puting beliung. Hanya lambaian keputusasaan yang mengoyak jiwa. Aku merasa terempas dari puncak bukit yang tinggi ke jurang tanpa dasar. Kau menyengatku seperti sengatan kalajengking. Sakit, perih dan luka. 

Aku yang terlalu dalam mencintaimu atau kau yang terlalu pandai menyayatkan nyeri? Kegembiraanku yang membara berganti banjir air mata. Aku diam bagaikan patung. Pandanganku jauh, hambar dan kosong. Mereka melihatku bagaikan melihat korban yang terbujur kaku di jalanan. Tapi, percayalah tuan, melupakanmu itu mudah, semudah kau balikan cinta menjadi dusta.


PENAKLUK HATI EMAK

Harusnya gue nulis ini pas hari ibu kemaren, tapi apaa boleh buat gara-gara tugass bikin buku yang deadline nya mepet kaya kucing kejepet dan bikin gue kepepet berasa dikejar anjing gila yang ga makan selama seminggu plus kena syndrom kebelet kawin *syerem huaaaaa
gue akan list secara acak penakluk hati emak, yaa walaupun hari emak udah lewat, tapi harusnya sebagai anak hari emak yaa tiap hari.  *ciellah
Ini dia penakluk hati yang bisa bikin hati emak lo luluh seketika.. cekiidoottt

1. MAHABRATA

Setelah gue survei pake metode penelitian abstrak, akhirnya gue simpulin bahwa mahabretong  salah tiga yang bisa naklukin hati emak-emak kita. Emak kita biasanya udah mantengin tipi + remot berjam-jam sebelum serial mahabrata mulai.  Gue sii curiga kalo emak kita bukan suka karena ceritanya tapi karena pemain yang nongol di tipi cakep-cakep  kaya Shaheer Syeikh, Saurab Raj Jain, Vin Rana, Aham sharma. Tapi jangan sampe deh, emak kita punya pikiran pengen jadi drupadi yang punya suami lima ntar bingung nentuin tiap anak yang lahir bapaknya siapa. Iya bisa pake tes DNA kalo anaknya cuma atu , tapi kalo anaknya 100 kaya kurawa, bisa-bisa dokter  yang meriksa bunuh diri di kebon singkong samping rumah sakit. Nah kalo lo pengen bikin emak' lo senenng, gampang. lo tinggal pergi ke tempat penyewaan kaset , trus lo sewa dah kaset serial mahabretong dari episode awal sampe ujung.

2. DISKON AKHIR TAHUN

Emak-emak dan calon emak emang paling doyann yang namanya belanja. ibaratkan belanja ntu udah jadi makanan wajib yang mesti dipenuhi. tapi sekalinya dipenuhi beuuhh jangan tanya, gak akan ada puasnya. Emak kita perlu waktu berjam-jam buat belanja, ditambah ada diskon gede-gedean. nah ajak emak lo ke mall yang lagi ngadain diskon gede-gedean sampe kecil-kecilan. Tips gue kalo lo mau nemenin emak lo belanja, lo harus siapin kaki sekuat kaki gajah, persediaan minum yang cukup kaya onta, makan makanan empat sehat, lima sempurna, enam kenyang, deel el terakhir kantong mringis.

3. DASTER

Ini bisa juga hadiah terampuh yang bisa bikin emak lo seneng, secara daster ntu udah jadi kaya pakaian dinas emak kita. Mau ke warung, masak, nonton tipi, santai, arisan komplek, kemanapun juga pakenya daster. kalo bisa cari dasternya bahannya yang halus jangan kaya kulit kambing. coraknya kalo ada gambar pemain mahabretong kalo ga ada yaa lo usaha. Asal jangan gambar mantan pacarnya yang dulu bisa-bisa emak lo gagal move on tingkat malaikat dan teringat kenangan waktu pacaran

oke itu 3 Penakluk Hati Emak, kalo kamu biasa pake yang mana ? atau ada yang laiin?  



Adam



Siapa yang tak kenal lelaki? Sosok manusia yang memiliki ribuan stok rayuan, kasih sayang, kekuatan dan air mata yang selalu membuat decak kagum kaum hawa tapi tak jarang mengundang tanya.

Laki-laki adalah tokoh dalam kisah pewayangan yang nyata, dengan kharisma yang memantulkan cahaya ke seluruh andromeda. Membuat jantungmu meradang dan berdegup kencang. Membuat otakmu berisik untuk merajuk dalam temu. Godaan terbesar yang membuat hatimu luluh tak berdaya namun juga terkapar tanpa nyawa.

Kau akan bersedia menyerahkan hatimu untuknya meski kau tau bahwa tidak ada cinta yang tidak mengundang air mata, kau akan bersandar pada bahunya yang tegap tatkala kelelahan menyapa. Akan sangat berbahaya jika kepercayaan meluap begitu saja.
Kata-katanya laksana titah raja kepada rakyatnya, membuatmu bersedia melakukan apapun. Satu kata yang meluncur dari mulut seorang laki-laki dapat membuatmu menjadi perempuan kaya sesudah miskin atau miskin sesudah kaya. Kasih sayangnya laksana lilin yang rela meleleh untuk menerangimu dari kegelapan. Perhatiannya laksana embun yang menyapa setiap pagi, menyejukan. Membuat pembuluh darahmu selalu menyebut namanya. Rayuannya mampu membuat otak ilmiahmu tidak stabil, luluh seketika laksana melelehnya es di kutub utara. Janjinya mampu membuat imajinasi berkelakar dengan ketidakwarasan. Kekuatannya mampu melindungimu dari keganasan dan kegarangan dunia laksana kekuatan tokoh pewayangan gatot kaca. Air matanya sangat berharga, karena laki-laki dapat menangis dengan atau tanpa air mata.

PENGARUH PUASA TERHADAP KESEHATAN MENTAL DAN ROHANI

MAKALAH TASSAWUF
PENGARUH PUASA TERHADAP KESEHATAN MENTAL DAN ROHANI 


Diajukan untuk memenuhi salah tugas UAS mata kuliah Ilmu Tassawuf












Disusun Oleh: Nurfauzy Abdillah (1134010092)



FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan modern dewasa ini banyak individu secara lahiriyah tampak sehat, terpenuhi segala macam kebutuhan material. Tetapi apabila ditelusuri lebih jauh, fakta menunjukan bahwa sebagian besar individu yang hidup di tengah-tengah masyarakat tersebut menderita penyakit mental yang cukup parah, sehingga pada stadium berikutnya akan mengerogoti ketahanan fisik. Gangguan mental dapat berakar dari tidak terpenuhinya kebutuhan psikis dasar yang berasal dari kekhasan eksistensi manusia yang harus dipuaskan, tetapi cara memuaskan psikis itu bermacam-macam, dan perbedaan cara pemuasan kebutuhan tersebut serupa dengan perbedaan tingkat gangguan mental.
Seiring perkembangan pemikiran dan peradaban manusia, perhatian manusia terhadap kesehatan mental semakin meningkat, sebab manusia semakin sadar bahwa kehidupan yang layak adalah manakala seseorang dapat menikmati hidup ini bersama-sama, berdampingan dengan orang lain. Kehidupan seseorang yang mengalami gangguan mental, tidak kurang pedihnya dari penyakit jasmani.
Sejarah mencatat, puasa merupakan  ibadah yang telah lama berkembang dalam masyarakat manusia, yakni sejak manusia pertama Adam as. hingga umat terakhir dari segala Nabi dan rasul Muhammad saw. (Moede, 1990:14). Puasa sangat berkaitan dengan ide latihan atau riyadlah (exercise), yaitu latihan keruhanian, sehingga semakin berat, semakin baik, dan utama, maka semakin kuat membekas pada jiwa dan raga seseorang yang melakukannya. Kekhasan ibadah puasa adalah sifatnya yang pribadi atau personal, bahkan merupakan rahasia antara seseorang manusia dengn Tuhannya. Puasa merupakan latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan Yang Maha Hadir (ompripresent) dan yang mutlak tidak pernah lengah sedikitpun dalam pengawasan-Nya terhadap tingkah laku hamba-hamba-Nya. Kesadaran seseorang akan beradaan Tuhan itu akan menjadikan dirinya senantiasa mengontrol emosi serta perilakunya, sehinga muncul keseimbangan lahiriyah dan batiniyah.
Bila ibadah puasa ditelaah dan direnungkan akan banyak sekali ditemukan hikmah dan manfaat psikologisnya. Misalnya saja, bagi mereka yang senang berpikir mendalam dan merenungkan kehidupan ini, maka puasa mengandung falsafah hidup yang luhur dan mantap, dan bagi mereka yang senang mawas diri dan berusaha turut mengahayati perasaan orang lain, maka mereka akan menemukan  prinsip-prinsip hidup yang sangat berguna. Disadari atau tidak disadari, puasa akan berpengaruh positif kepada rasa (emosi), cipta (rasio), karsa (will), karya (performance), bahkan kepada ruh, jika syarat dan rukunnya dipenuhi dengan sabar dan ikhlas (Bastaman, 1995:181).
Puasa merupakan momentum berharga untuk menghadirkan mental yang sehat, sebab dalam puasa terkandung latihan-latihan kejiwaan yang harus dilalui, misalnya berlaku jujur dengan menahan lapar dan dahaga baik di kala bersama orang lain mapupun saat sendirian. Sesuai dengan firman Allah:  
يآ أيّها الّذين آمنُوا كُتِبَ عَليْكُمُ الصِّيامُ كما كُتِبَ على الّذين مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
B.    Rumusan Masalah
1.     Apa saja aspek-aspek pengendalian diri dalam ibadah puasa?
2.     Bagaimana pengaruh puasa dan pengendalian diri dalam perspektif kesehatan mental?
C.    Tujuan Penulisan
1.     Untuk mengetahui aspek-aspek pengendalian diri dalam ibadah puasa
2.      Untuk mengetahui pengaruh puasa dengan pengendalian diri dalam perspektif kesehatan mental

BAB II
PEMBAHASAN

A.    HAKIKAT PUASA
1.     Definisi
Secara bahasa puasa berarti menahan diri dari segala sesuatu. [1] Pengertian lain menjelaskan bahwa puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan, satu hari lamanya dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. [2]
Sedangkan definisi puasa menurut istilah adalah menahan diri, berpantang atau mengenalikan diri makan, minum dan bercampur dengan istri atau suami yang didahului dengan niat dari terbit fajar sampai matahari tenggelam. Dari pengertian ini menunjukan dua hal, pertama, menahan nafsu makan, minum dan aktivitas seksual pada siang hari, sebagai syarat minimal puasa. Kedua, puasa harus disertai dengan niat yang ikhlas. Puasa yang sempurna adalah meninggalkan hal-hal yang tercela dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.[3]
Puasa dalam bahasa Arab di sebut al-shaum yang berarti menahan (imsak). Sedangkan secara terminologis, puasa adalah suatu ibadah yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dengan cara mengendalikan diri dari syahwat makan, minum, dan hubungan seksual serta perbuatan-perbuatan yang merusak nilai puasa pada waktu siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (MUI DKI Jakarta, 2006: 15).
Secara syara’, dalam kitab Fathul Qorib dijelaskan bahwa:
وشرعا امساك عن مفطر بنية مخصوصة جميع نهار
Artinya, secara syara’, puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa, dengan niat tertentu, mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
Puasa adalah rukun Islam keempat dari lima rukun Islam yang dijelaskan Rasulullah saw dalam haditsnya
      “Islam di bangun atas lima (dasar): Bersaksi tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu menempuh perjalanan kesana” (H.R. Mutaffaq Alaih)[4]

2.     Hikmah Puasa
Hikmah Puasa menurut al-Jurjawi Dalam Kajian Aksiologi
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa puasa itu ternyata banyak mengandung banyak hikmah bagi yang melakukan sesuai dengan aturan. Dalam hal ini penulis akan mencoba mengupas persoalan puasa menurut al-Jurjawi secara kajian aksiologi.
a)     Nilai Spiritual (Hubungan dengan Tuhan)
Nilai aspek spiritual adalah nilai ketuhanan yang terkandung dalam ibadah sebagai jalan menghubungkan manusia dengan Tuhannya, sebagaimana diutarakan al-Jurjawi dalam kitabnya Hikmah al-Tasyri Wa Falsafatuhu, mengatakan bahwa :
1.     Puasa adalah sebagai salah satu bentuk terima kasih pada Allah SWT. [5]  Rasa terima kasih yang dimaksud di sini bisa dikatakan sebagai suatu bentuk rasa syukur menusia kepada Tuhannya atas segala nikmat yang telah banyak diberikan dan tidak terhitung jumlahnya. Rasa terima kasih tersebut dibuktikan dengan cara melaksanakan puasa.
2.     Puasa sebagai ajang untuk dapat menjadikan manusia supaya lebih bertakwa, atau suatu cara berlatih untuk selalu dapat mengerjakan segala apa yang diperintahkanNya dan mampu menjauhi segala laranganNya dengan jalan melaksanakan puasa sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah dan bukan aturan yang ditetapkan manusia.  Hal-hal yang terkait dengan segala aturan pada saat manusia melaksanakan puasa, seperti diperbudak oleh makanan dan minuman,  hubungan seks  dan segala perbuatan yang bersifat keji (mencuri, berdusta, menfitnah dan sebagainya), itu semua harus dapat dijauhi dalam rangka memperoleh suatu kenikmatan yang lebih dari hal itu.
3.     Puasa juga bisa menepis sifat kebinatangan yang ada pada manusia, yaitu sifat yang hanya bergairah kepada makan dan minum serta semisalnya. Puasa  bisa menjadi sebuah cara yang bagus untuk dapat melatih manusia terutama yang beriman untuk dapat menahan diri dari yang hanya memperturutkan nafsu belaka dan menjaga manusia dari segala perbuatan keji yang hanya berbau sifat binatang tersebut. Sehingga nantinya akan menjadi suatu alat yang mudah untuk mengangkat derajat manusia untuk selalu di atas dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain, disebabkan manusia tersebut telah memiliki jiwa yang bagus. Kejiwaan yang bagus akan berpengaruh pada pelaksanaan ibadah, manusia tesebut akan lebih mudah ke arah kebaikan (sifat Malaikat) daripada ke arah kejelekan (sifat binatang), disebabkan kebiasaan latihan kejiwaan pada saat berpuasa. Pendek kata orang yang berpuasa menjadikan hubungan manusia dengan Allah terasa lebih akrab, hal itu menjadi bukti betapa benarnya kata-kata Allah bahwa Ia lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita.  Maka dengan jalan berpuasa diharapkan orang akan lebih mudah memelihara, menjaga, bisa memagari dirinya dari segala godaan keduniawian yang menyesatkan.[6]

b)     Nilai Sosiologis (Hubungan antar Manusia) 
Salah satu bentuk jiwa keberagamaan yang telah lama dikembalikan umat Islam pada periode awal (Nabi dan Sahabatnya) adalah sikap keberagamaan yang intrinsik, artinya aktualisasi ajaran agama tidak hanya bersifat formalitas belaka, tetapi juga mampu menyentuh substansi dari suatu ibadah.  [7] 
Kaitanya aspek sosiologis puasa adalah satu bentuk cara mengingatkan orang kaya kepada penderitaan fakir miskin sehingga diharap nantinya ia mampu mengasihi dan menyanyangi, yakni dengan cara ditempatkannya orang kaya dalam kesempitan. Dengan tujuan orang tersebut bisa sekaligus ikut merasakannya, dengan prinsip bahwa cara untuk mengetahui perasaan orang lapar maka orang tersebut harus ikut  berlapar-lapar secara bersama-sama, tidak memandang antara orang miskin ataupun kaya.
c)     Nilai Kesehatan 
Hikmah puasa bagi kesehatan seperti yang diutarakan al-Jurjawi, adalah dalam rangka membersihkan perut dari berbagai kotoran, disebabkan perut adalah sumber dari segala penyakit. Oleh karenanya pemeliharaan perut adalah awal dari segala pengobatan sekaligus keinginan mendapat keseimbangan tubuh. [8]
Hal itu seperti yang dikatakan ahli medis bahwa sesungguhnya puasa itu bisa menjadi pengaman yang baik dari berbagai macam penyakit yang kronis dan penyakit yang menular.    
Dari uraian singkat diatas, maka dapat dianalisa bahwa dengan puasa dapat menjadikan tubuh sehat dan juga menyembuhkan dari berbagai penyakit. Hal tersebut telah dibuktikan oleh banyak orang yaitu hasilnya sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh manusia tersebut. Sehingga puasa yang dilakukan tersebut dapat menjadikan terapi bagi sekian banyak penyakit, bahkan mampu menjadi faktor kesembuhan bagi penyakit yang telah diperkirakan secara medis sulit disembuhkan. 
Puasa yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit telah terbukti sejak zaman dulu, sampai sekarang yang justru semakin dikembangkan sebab buktinya memang nyata dapat dirasakan.
d)     Nilai Psikologis (kejiwaan)
Peranan puasa kaitannya dengan psikologis adalah jalan untuk dapat mengendalikan diri. Pengendalian diri adalah salah satu syarat utama bagi jiwa yang sehat, dan manakala pengendalian diri seseorang terganggu maka akibatnya akan timbul berbagai reaksi kelainan, baik dalam alam fikir, alam perasaan maupun alam perilaku bersangkutan, dan juga berpengaruh pada kesehatan fisik. Reaksi yang ditimbulkannya tidak saja menimbulkan subyektif pada dirinya tetapi juga dapat mengganggu lingkungan serta orang lain di dekatnya. [9]
Islam mensyari’atkan puasa dengan maksud agar manusia dapat hidup yang lebih baik, khususnya untuk menjaga psikologis manusia agar tidak mudah terganggu. Puasa sebagai suatu cara yang terbaik untuk menguatkan jiwa dengan cara mengendalikan syahwat supaya tidak melampui batas.      
Puasa secara psikologis dapat dipahami secara aksiologi, yaitu puasa bisa menjadi suatu cara untuk melatih kedisiplinan manusia. Puasa juga merupakan latihan ajaran moral yang paling tinggi dalam kehidupan manusia dan sekaligus bisa menjadi tahap pembelajaran, bahwa sesungguhnya manusia untuk mendapatkan suatu kenikmatan yang hakiki, maka sebelumnya harus diawali dengan berhadapan dengan suatu penderitaan dan berusaha dengan sungguh dapat melintasi cobaan tersebut, daripada tenggelam ke dalam apa yang tidak diperbolehkan kepadanya.
 
e)     Aspek Kesehatan Mental
1.     Puasa sebagai pencegah gangguan kejiwaan
Pakar ilmu jiwa menyimpulkan yang mendorong atau meltar belakangi manusia bertindak, berperilaku, dan bekerja adalah berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang dapat dibagi kepada dua macam,[10] yaitu:
a)     Kebutuhan jasmani
Kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan pokok dari kebutuhan manusia, jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi kan terguncang rasa sakit. Diantara kebutuhan yang dirasakan manusia adalah makan, minum,  dan seks. Proses jasmani ini berjalan terus menerus mulai dari lahir sampai tua.
Puasa mengurangkan kesempatan untuk makan dan berkurangnya makanan dan minuman yang masuk, maka akan berkurang otot-oot dalam tubuh manusia sehingga dorongan hawa nafsu akan menurun pula.[11]
Salah satu tujuan dari puasa ialah mengalahkan musuh-musuh Allah yaitu setan. Setan itu masuk ke dalam manusia melalui syahwat. Syahwat itu biasa kuat sebab makan dan minum. Cara untuk mencegah setan ialah dengan sedikit makan atau berpuasa. [12]
Kebutuhan seks juga tidak dipelajari akan tetapi kebutuhan mulai dirasakan apabila manusia sudah mencapai kematangan tertentu, yang dimulai dari masa remaja. Dirasakan kebutuhan tersebut juga menimbulkan ketegangan tertentu pada tubuh. Hal inilah yang mendorong manusia mencari jalan untuk memenuhinnya.[13]
Diantara hikmah puasa yang terpenting ialah memperkuat  mental, sehingga dapat menguasai dorongan yang datang dari dalam diri berupa dorongan biologis, maupun kegoncangan emosi yang diakibatkan oleh tidak tersalurnya dorongan biologis itu.
b)     Kebutuhan rohani
Dari segi kejiwaan, diakui bahwa suatu kebiasaan dalam memenuhi kebutuhan akan mendorong orang untuk melakukannya pada waktu-waktu yang telah menjadi kebiasaannya itu. Sebabnya adalah karena pemenuhan kebutuhan tersebut mendatangkan kepuasan dan kelegaan. Apabila manusia mampu mengendalikan diri dalam mengehadapi kebutuhan-kebutuhan yang pokok tersebut, ia akan melakukan pelanggaran terhadap hak orang lain dan selanjutnya akan menyebabkan pertengkaran, perkelahian bahkan yang dapat membahayakan orang banyak. [14]

2.     Puasa sebagai pembinaan kesehatan mental
Yang dituntut oleh puasa adalah kejujuran terhadap diri sendiri disamping jujur kepada orang lain. Karena puasa itu ibadah batin yang tidak biasa disaksikan oleh panca indera dengan ibadah lain yang hanya yang mengetahui ialah Allah swt
Sifat jujur telah tertanam pada diri seseorang, maka dirinya akan merasa tentram, ia tidak akan dihinggapi oleh rasa takut atau rasa dosa, karena segala sesuatu jelas dan tidak ada yang palsu yang disembunyikan.
Dalam ilmu kesehatan mental, terdapat suatu cara penyesuaian diri yang tidak sehat disebut pembelaan (sanicity), yaitu orang yang tidak berani mengaku kepada dirinya sendiri bahwa ia telah melanggar nilai-nilai yang dianutnya sendiri. [15]
Ibadah puasa mencegah terjadinya gangguan-gangguan kejiwaan. Nilai puasa itu benar-benar menjangkau lubuk yang terdalam pada diri manusia yang menunjang kepada pembinaan akhlak mulia.

3.     Puasa sebagai pengobatan terhadap gangguan kejiwaan
Pengobatan kejiwaan yang paling baik adalah menghilangkan penyebab terjadinya angguan tersebut. Diantara penyebab gangguan kejiwaan yang banyak terdapat adalah rasa berdosa atau bersalah dan rasa dendam. Penderitaan yang amat berat adalah merasa berdosa, ia telah mencoba mohon ampun kepada Allah swt, namun rasa berdosa dan penyesalan tidak hilang juga. Maka laksanakanlah puasa, terlebih lagi di bulan Ramadhan dengan tekun serta perbanyak ibadah, amal shaleh dan mohon ampun kepada Allah swt. [16]

B.    HAKIKAT PENGENDALIAN DIRI
1.     Definisi
Pengendalian Diri adalah menahan diri atau menjaga dari sesuatu yang bersifat merugikan. Pengendalian diri dapat dicapai dengan mencurahkan segalaa usaha, kekuatan, dan kemampuan dengan penuh kesungguhan dalam menahan atau menjaga diri dari musuh yang ada dalam diri sendiri, berupa kecenderungan atau dorongan dari rohani dan jasmani, serta dorongan yang disebabkan oleh hawa nafsu yang hendak menjerumuskan manusia dari perbuatan tidak terpuji.[17]


2.     Aspek-Aspek Pengendalian Diri Yang Terkandung Dalam Ibadah Puasa
Ibadah puasa yang disyari’atkan dalam islam mengandung aspek-aspek pengendalian diri, hal ini karena puasa dapat melatih manusia untuk mengontrol dorongan naluri fa’ali. Dalam perspektif kesehatan mental, aspek pengendalian diri dari puasa ini dapat dijelaskan dengan teori psikoanalisa Sigmun Freud. Menurut Freud, struktur kepribadian yang terbagi atas ID, Ego dan Super Ego memiliki fungsi-fungsi yang spesifik dalam meng-handle suatu keinginan individu. Adapaun aspek-aspek pengendalian diri yang terkandung dalam ibadah puasa antara lain:
a.      Puasa untuk meredam amarah atau kesehatan emosional
b.     Puasa melatih kesabaran
c.      Puasa meningkatkan kecerdasan emosional
d.     Puasa untuk membentuk kematangan diri (konsistensi dan kejujuran)

3.     Dinamika Kerja Aspek-Aspek Pengendalian Diri Dari Ibadah Puasa
a.      Hakekat puasa adalah mengendalikan hawa nafsu, atau penguasaan atas kemauan hati. Saat orang merasa lapar dan tidak bisa menyalurkan nafsu-nafsu birahinya, biasanya ia mudah sekali marah. Singkatnya, orang yang berpuasa pada hakekatnya sedang berlatih intensif mengendalikan hawa nafsunya supaya tidak mudah terjerumus kepada perbuatan dosa dan maksiat, atau dengan kata lain supaya menjadi lebih bertaqwa.
b.     Puasa mempunyai muatan yang berisikan latihan kesabaran, ketekunan, dan usaha untuk menahan diri dari berbagai kemungkinan; terjebak dalam dosa dan maksiat. Jika seseorang menyakiti hatinya atau merugikan pribadinya, maka kemarahannya dibendung dengan keyakinannya senantiasa bersama Allah SWT. Puasa yang dapat mengembangkan kecerdasan emosi dan spiritual adalah puasa yang dilakukan oleh orang yang melihat  segala sesuatu dengan mata hatinya. Sebab apabila puasa dilakukan dengan hati nurani akan menyingkap seluruh rahasia ketuhanan yang terpancar dari dalam seluruh jiwa manusia. Hidayah inilah yang akan menuntun dan mempermudah manusia dalam menghadapi masalah-masalah yang semakin kompleks. Puasa merupakan pendidikan bagi hati sanubari manusia. Dengan berpuasa seorang muslim selalu konsisten dengan tingkah laku yang baik dan benar. Dan dapat pula mengendalikan hati nuraninya sendiri tanpa menghendaki pengaasan atau monitoring dari siapapun. Seorang muslim yang berpuasa harus mempunyai keyakinan selalu dikawal dan diawasi oleh Allah.
C.    HAKIKAT KESEHATAN MENTAL
1.     Definisi
Secara etimologi mental berasal dari bahasa latin yaitu mens atau mentis artinya roh, jiwa, atau nyawa. Dalam bahasa yunani kesehatan terkandung dalam kata hygiene yang berarti ilmu kesehatan. Maka kesehatan mental merupakan bagian dari ilmu jiwa. Ada yang berpendapat bahwa kesehatan mental adalah terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan.[18]
Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari keluhan dan gangguan mental baikberupa neurosis maupun psikosis (penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial). Kesehatanmental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa.[19]
Kesehatan Mental secara terminologis menunjuk pada dua maksud yaitu sebagai disiplin ilmu dan kondisi mental yang normal. Dalam studi ini istilah kesehatan mental dipakai untuk maksud yang kedua, yakni terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem  yang biasa terjadi dan terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).[20]
Pengertian lain tentang kesehatan mental perspektif psikologi Islami, sebagaimana dikutip oleh Hanna Djumhana Bastaman “Kesehatan Mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya dan lingkungannya berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan mencapai hidup yang bermakna dan bagian dunia dan akhirat.[21]
2.     Karakteristik Kesehatan Mental
Untuk melihat dan mencermati karakterisik kesehatan mental, pertama-tama perlu dikemukakan gambaran mengenai kehidupan mental yang sehat. Seseorang yang mempunyai kehidupan mental yang sehat umumnya dipandang sebagai pribadi yang normal. Sebaliknya pribadi yang tidak normal biasnya memiliki mental yang tidak sehat. Meskipun antara normalitas dan abnormalitas sangat samr batasnya, karena pola kebiasaan tertentu bisa jadi dipandang abnormal oleh kelompok lain. Namun secara umum batas antara keduanya dapat ditarik.
            Menurut Kartini Kartono dan Jenny Andari, pribadi yang normal dengan mental yang sehat adalah pribadi yang dalam kehidupannya akan bertingkah laku kuat (serasi, tepat) dan bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, sikap hidup sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal dan interpersonal yang memuaskan. [22]
            Dengan mengutip pendapat Maslow dan Mittelman, Kartini Kartono dan Jenny Andari menyebutkan sebelas ciri mengenai kehidupan mental yang sehat, yaitu:
1.     Memiliki rasa aman yang tepat dan mampu berhubungan dengan orang lain dalam berbagai segi kehidupan.
2.     Memiliki penilaian dan wawasan diri yang rasional dengan harga diri yang sedang.
3.     Mempunyai spontanitas dan emosionalitas yang tepat.
4.     Mempunyai kontak dengan realitas secara efisien tanpa angan-angan yang berlebihan.
5.     Memiliki dorongan nafsu-nafsu jasmaniah yang sehat dan mampu memuaskannya dengan cara yang sehat.
6.     Mempunyai pengetahuan diri yang cukup, dengan motif-motif hidup yang sehat dan kesadaran tinggi.
7.     Memiliki tujuan hidup yang tepat, yang bisa diapai dengan kemampuan diri sendiri.
8.     Memiliki kemampuan belajar dari pengalaman hidup.
9.     Mempunyai kemampuan untuk memuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan dari kelompoknya,
10.  Memiliki sikap emansipsi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan.
11.  Memiliki integritas dalam kepriadian yakni kebulatan unsur jasmniah dan rohaniah.

Kesebelas ciri kehidupan mental yang sehat diatas pada dasarnya merupakan kriteria ideal, yang bahkan seorang pribadi normal pun tidaak akan bisa diharapkan memenuhi secara mutlak semua kriteria atau ciri tersebut. Kartini Kartono dan Jerry Andani lebih menyederhanakan ciri-ciri kehidupan mental yang sehat sebagai berikut:
1.     Integritas kejiwaan
2.     Kesesuaian tingkah laku sendiri dengan tingkah laku sosial
3.     Adanya kesanggupan melaksanakan tugas-tugas hidup dan tanggung jawab sosial
4.     Efisien dalam menanggapi hidup[23]

Sementara itu Hanna Djumhana Bastaman mengemukakakn karakteristik mental sebagai berikut:
1.     Bebas dari penyakit kejiwaan
2.     Mampu secara luas menyesuaikan diri dengan menciptakan hubungan atar pribadi yang bermanfaat dan menyenangkan
3.     Mampu mengembangkan potensi-potensi pribadi (minat, bakat, sekap dan sebagainya.) yang baik dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.
4.     Beriman dan bertaqwa serta berupaya menerapkan tuntutan agama dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep lain tentang karakteristik kesehatan mental juga diungkapkan oleh Muhammad Mahmud Menurutnya terdapat delapan macam tanda-tanda kesehatan mental, yaitu:
1.     Kemampuan ketenangan dan rileks batin dalam menjalankan kewajiban, baik terhadap dirinya, masyarakat, maupun kepada Allah SWT
2.     Memadai dalam berakivitas
3.     Menerima keadaan dirinya dan orang lain
4.     Adanya kemampuan untuk melihat dan menjaga diri
5.     Kemampuan untuk tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap keluarga, sosial maupun agama.
6.     Memiliki kemampuan untuk berkorban dan menebus kesalahan yang diperbuat
7.     Kemampuan individu untuk membuat hubungan sosial baik yang dilandasi sikap saling percaya maupun saling mengisi.
8.     Adanya rasa kepuasan, kegembiraan dan kebahagiaan dalam mensikapi atau menerima nikmat yang diperoleh.[24]

Menurut Nana Syaoid Sukmadinata, ada tiga komponen utama dalam kesehatan mental, yaitu: memiliki rasa diri berharga, merasa puas akan peranan dalam kehidupannya, dan terjalin baik dengan orang lain. Perasaan diri berharga merupakan hal yang sangat penting dalam kesehatan mental, sebab mendasari kondisi dari komponen-komponen kesehatan mental lainnya. Perasaan diri berharga akan memperkuat keberadaan dirinya dalam kehidupannya. Seseorang yang tidak memiliki perasaan diri tidk berharga, tidak akan memiliki ketenangan hidup, tidak akan memiliki harapan, banyak diliputi perasaan cemas, ragu, hampa dan bentuk ketaktentuan lainnya.[25]
            Menurut Trackers ada beberapa alasan mengapa pentingnya perasaan diri berharga, yaitu:
1.     Perasaan diri berharga merupakan landasan bagi penerimaan diri sendiri dan penerimaan diri sendiri merupakan bekal bagi penerimaan orang lain. Seseorang memiliki rasa diri berharga karena meraasa memiliki kondisi badan, psikis, dan perilaku yang baik dan wajar. Dengan kondisi ini, ia berinteraksi dengan wajar pula dengan individu lainnya.
2.     Sesorang yang memiliki rasa diri berharga, memiliki bayangan diri yang positif, merasa berguna dan dibutuhkan oleh orang lain. Perasaan ini bukan saja penting bagi keberadaan dirinya tetapi juga bagi interaksi dengan orang lain.[26]
Sementara itu organisasi kesehatan dunia (WHO) 1959 memberika kriteria jiwa atau mental yang sehat adalah sebagai berikut[27]
1.     Dapat menyesuaikan secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya.
2.     Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahannya.
3.     Merasa lebih puas memberi daripada menerima.
4.     Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas
5.     Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan
6.     Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran di kemudian hari.
7.     Menjuruskan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif
8.     Mempunyai rasa kasih sayang yang besar.

3.     Ciri-ciri orang yang sehat mental 
Orang yang sehat mental biasa di sebut individu yang normal. Yakni orang yang mampu memperlihatkan kematangan emosional, kemampuan menerima realitas, kesenangan hidup bersama orang lain, dan memiliki filsafat atau pegangan hidup pada saat ia mengalami komplikasi kehidupan sehari-hari sebagai gangguan (Killander dalam Wiramihardja, 2004:25). Secara lebih jelas ciri-ciri tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.     Kematangan emosional.
Terdapat tiga dasar emosi, yaitu cinta, takut, dan marah. Fungsi cinta ialah apabila kita mencintai suatu hal yang membuat senang, takut kalu ada hal yang mengancam rasa aman kit, dan marah kalau ada yang mengganggu atau menghambat jalan usaha untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dengan dimikian orang yang disebut emosinya matang ialah orang yang memiliki dispilin diri, determinasi diri, dan kemandirian. Seseorang yang memiliki dispilin diri dapat mengatur dirinya, hidup teratur, mentaati hukum dan peraturan. Sedangkan orang yang memiliki determinasi diri akan membuat keputusan sendiri dalam memecahkan masalah dan melakukan apa yang telah diputuskan. Ia tidak mudah menyerah dan akan menganggap masalah baru lebih sebagi tantangan daripada sebagai ancaman. Sementara orang yang memiliki sikap kemandirian ialah orang yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Artinya tidak bergantung pada orang lain.

Berkaitan dengan pendapat di atas, Garious (dalam Najati, 2003:3) memberikan indikator tentang kematangan emosional, sebagai berikut:
“Individu disebut memiliki kematangan emosional apabila individu mampu menerima kenyataan yang berkaitan dengan kemampuan dan potensi kepribadiannya, mampu menikmati hubungan-hubungan sosialnya baik di dalam maupun di luar keluarga, mampu bersikap positif terhadap kehidupan, sanggup menghadapi situasi yang tidak diperkirakan, berani dan mampu mengemban tanggung jawab, teguh dan konsisten, mampu mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan di antara berbagai tuntutan kebutuhan dan motivasi kehidupan, memiliki perhatian yang seimbang terhadap berbagai macam kegiatan intelektual, kerja, hiburan, dan sosial, memiliki pendangan hidup yang kuat dan integral”. 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki kematangan emosional adalah orang yang tidak banyak menggantungkan diri pada bimbingan dan kendali orang lain, melainkan lebih mendasarkan diri pada kemampuan, kemauan dan kekuatannya sendiri.
1.     Kemampuan menerima realitas.
Adanya perbedaan antara dorongan, keinginan, dan ambisi di satu pihak, serta peluang dan kemampuan di pihak lainnya, adalah hal yang bisa terjadi. Bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menerima realitas sudah pasti akan  memperlihatkan perilaku yang mencerminkan kemampuan dalam memecahkan masalah, yakni dengan segera menerima tanggung jawab, menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bersifat terbuka dalam menerima pengalaman dan gagasan baru, membuat tujuan-tujuan yang realistis, serta melakukan yang terbaik sampai merasa puas atas hasil usahanya tersebut. 
2.     Hidup bersama dan bekerja sama dengan orang lain.
Yakni memiliki kemampuan dan kemauan untuk mempertimbangkan minat dan keinginan orang lain dalam tindakan-tindakan sosialnya, mampu menemukan dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan pandangan dengan orang lain, serta mempunyai tanggung jawab sosial serta merasa bertanggung jawab terhadap nasib orang lain.

3.     Memiliki filsafat atau pegangan hidup. 
Yang dimaksud dengan memiliki filsafat atau pegangan hidup ialah memiliki pegangan hidup yang dapat senantiasa membimbingnya untuk berada dalam jalan yang benar, terutama saat menghadapi atau dalam situasi berada yang mengganggu atau membebani. Sehingga tidak terbawa oleh arus situasi yang berkembang dilingkungan serta suasana hati yang bersifat sesaat.

4.     Sifat-sifat orang yang sehat mental
Setelah memaparkan ciri-ciri orang yang sehat mental, maka perlu pula dijabarkan mengenai sifat-sifat yang dimiliki oleh orang yang sehat secara mental. menurut Coleman dan Broen (dalam Wiramihardja, 2004:23),  sifat-sifat tersebut antara lain:
1.     Sikap terhadap diri sendiri yang positif (positif attitude toward self)
menekankan pada penerimaan diri, identitas diri yang adekuat, penghargaan yang realistik terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain.
2.     Persepsi asalitas (perception of reality), yaitu suatu pandangan realistik atas diri sendiri dan dunia, orang, serta benda-benda yang yang nyata ada di lingkungannya.
3.     Keutuhan (integration), yaitu kesatuan dari kepribadian, bebas dari ketidakmampuan menghadapi konflik dalam diri (inner conflict) dan toleransi yang baik terhadap stres.
4.     Kompetensi, ialah adanya perkembangan kompetensi, baik fisik intelektual, emosional, sosial untuk menanggulangi masalahmasalah kehidupan. Kompetensi mengandung pengetahuan keterampilan, sikap dan perilaku yang sesuai dan memadai.
5.     Otonomi, ialah keyakinan diri, rasa tanggung jawab, dan pengaturan diri yang adekuat, bersama-sama dengan kemandirian yang memadai menyangkut pengaruh sosial.
6.     Pertumbuhan atau aktualisasi diri, ialah menekankan pada kecenderungan terhadap kematangan yang meningkat, perkembangan potensialitas, dan kepuasan sebagai pribadi.  

D.    PENGARUH PUASA DAN PNGENDALIAN DIRI DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN MENTAL
Manusia dalam pandangan Islam, tersusun dari dua unsur yaitu jsmani dan rohani. Secara jasmaniah, tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan hisab kebendaan. Sedangkan secara rohaniah, tubuh manusia bersifat immaterial dan mempunyai kebutuhan spiritual. Jasmani manusia menjadi mediator tempat bersarangnya hawa nafsu, sehingga terbawa kepada kejahatan. Sementara rohani yang berasal dari unsur suci, maka akan selalu mengajak pada kesucian.
Dalam Islam, manusia sangat memerlukan pelatihan rohani dalam bentuk ritual ibadah. Tujuannya agar manusia selalu ingat kepa Sang Pencipta-Nya, Allah swt dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Keadaan yang senantiasa dekat pada Tuhan dapat mempertajam rasa kesucian yang senantiasa menjadi rem bagi hawa nafsu manusia.  Puasa merupakan suatu ibadah yang dapat memberikan latihan dan pendidikan pada jasmani dan rohani manusia. Latihan ini akan sangat nampak dalam aspek pengendalian diri dan hawa nafsu yang mengajak kepada perilaku tidak terpuji.
Hal ini sesuai dengan konsep puasa yang digunakan oleh Prof.Dr.Ardani (1995 : 252) yang menyebutkan bahwa orang yang berpuasa, menahan nafsu makan, minum dan syahwat dalam jarak waktu yang telah ditentukan. Disamping itu, ia juga harus menahan diri dari tingkah laku dan perbuatan yang tercela. Menahan nafsu-nafsu tersebut merupakan latihan spiritual yang akan mempertajam rasa kesucian dan rasa moral. Orang yang berpuasa dianjurkan untuk banyak berbuat kebajikan, menyantuni fakir miskin, dan orang lemah lainnya. Latihan jasmani dan rohani disini tampaknya terpadu menjadi satu usaha dalam memelihara kesucian rohani, sehingga diharapkan melahirkan orang yang bertakwa. Definisi diatas diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan dalam Misbahal al-syari’ah bahwa Rasulullah bersabda “Puasa adalah perisai”. Puasa melindungi dari kejelekan duniawi dan siksa akhirat. Ketika hendak berpuasa, niatkanlah puasa untuk menahan diri dari dorongan syahwat, dan memutuskan pikiran yang sering dipengaruhi oleh godaan syaitan. Sucikan diri dari segala penyakit yang ditimbulkan karena dosa, serta sucikanlah batin dari setiap hal yang bisa membuat lalai dari berdzikir kepada Allah SWT.
Uraian diatas mengandung makna bahwa dengan puasa kita dihindarkan dari makanan, minuman dan berbagai penyakit jasmaniah. Puasa juga merupakan latihan untuk mengendalikan hawa nafsu dan sarana untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pada saat berpuasa, kita dilatih untuk mengembangkan kepribadian kita. Kita meninggalkan oral, anal, dan genital menuju tingkat rohaniah. Periode oral kita kekang dengan tidak makan dan minum, kitapun mencoba untuk meninggalkan tahap genital dengan mengendalikan nafsu syahwat. Kita berusaha meninggalkan keterkaitan pada tubuh dan mulai memperhatikan rohani. Dengan kata lain ketika berpuasa seseorang akan meninggalkan periode awal atau keinginan-keinginan jasmani atau berupa kehendak dirinya sendiri untuk menempatkan kehendak Allah yang lebih tinggi dari kehendak dirinya.
            Substansi dari orang yang berpuasa adalah membelokan keinginan yang bersifat egoisme kepada tujuan yang baik dan berguna. dengan demikian puasa yang dilakukan dengan mengedepankan usaha untuk mengendalikan setiap hawa nafsu, akan memberikan ketenangan hidup seseorang. Ketenangan hidup ini akan berkaitan dengan kesehatan mental. Karena dalam ketenangan, kondisi hidup seseorang dengan keadaan rohani (pikiran, perasaan, dan kehendaknya) yang tidak gelisah, tidak kacau, aman dan tentram atau mencapai keharmonisan dengan dirinya sendiri, orng lain dan masyarakat.
            Peranan puasa dalam menciptakan kesehatan mental cukup besar, baik sebagai pegobatan terhadap gangguan kejiwaan, sebagai pencegahan agar tidak terjadi gangguan kejiwaan, maupun sebagai alat untuk kesehatan mental.
            Dalam ibadah puasa, kejujuran yang dituntut adalah jujur terhadap diri sendiri di samping jujur kepada orang lain. Orang yang tahu persis apakah seseorang itu berpuasa atau tidak, adalah dirinya sendiri. Orang lain dapat dibohonginya. Sebab menelan air waktu berkumur-kumur sudah menyebabkan puasa itu batal, walaupun tidak makan dan tidak minum.
Puasa juga  merupakan hubungan ruhani antara makhluk dehan khaliknya. Puasa bertujuan agar manusia dekat dengan Allah swt shingga mendorong manusia untuk berusaha dan tidak tergelincir serta terperosok ke dalam kegelisahan, tidak tenang, galau, dan rasa bersalah. Adapun kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala jiwa seperti cemas, konflik, gelisah, frustasi. Oleh karena itu, hubungannya dengan ibadah puasa dengan kesehatan mental sangat erat, karena ibadah mampu menyehatkan mental manusia.










BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
1.     Aspek-aspek pengendalian diri yang ada dalam ibadah puasa adalah sebagai berikut:
a.      Puasa untuk meredam amarah atau kesehatan emosional
b.     Puasa melatih kesabaran
c.      Puasa meningkatkan kecerdasan emosional
d.     Puasa untuk membentuk kematangan diri (konsistensi dan kejujuran)

2.     Pengaruh puasa dan pengendalian diri dalam perspektif kesehatan mental
Peranan puasa dalam menciptakan kesehatan mental cukup besar, baik sebagai pegobatan terhadap gangguan kejiwaan, sebagai pencegahan agar tidak terjadi gangguan kejiwaan, maupun sebagai alat untuk kesehatan mental.
Puasa juga  merupakan hubungan ruhani antara makhluk dehan khaliknya. Puasa bertujuan agar manusia dekat dengan Allah swt shingga mendorong manusia untuk berusaha dan tidak tergelincir serta terperosok ke dalam kegelisahan, tidak tenang, galau, dan rasa bersalah. Adapun kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala jiwa seperti cemas, konflik, gelisah, frustasi. Oleh karena itu, hubungannya dengan ibadah puasa dengan kesehatan mental sangat erat, karena ibadah mampu menyehatkan mental manusia.










DAFTAR PUSTAKA

Jejen Musfah, Risalah Puasa, Menjadikan Bulan Ramadhan Sebagai Bulan Penuh Pahala, (Yogyakarta : Hijrah, 2004),
H. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam (Jakarta: Attahiriyah, 1954)
Jalaludin Rakhmat, Madrasah Ruhaniah Berguru pada Ilahi di Bulan Suci, (Bandung: Mizan Media Utama, 2005),
H. Ubaidillah Saiful Akhyar, Dahsyatnya Terapi Puasa (Jakarta: Nakhlah Pustaka, 2007) hlm.21
Syekh Ali Ahmad Al-Jujawi, Hikmah al-Tasyri Wa Falsafatuhu, terj, Hadi Mulyo, CV Asyifa, Semarang 1992, Jilid I,
Zakiah Drajat, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989)
Darajat, Puasa meningkatkan Kesehatan Mental
Utsman Ibn Hasan Ibn Ahmad al-Syakir, Darroh al-Nashihin, Indonesia : Dar al-Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, ttp,
Utsman al-syakir, Durroh al-Nashihin,
Darajat, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental,
Moh. Ardani, Al-Qur’an dan Sufisme Mangkunegaran IV, (Yogyakarta : Bina Bhakti Waqaf, 1995)
Yusak Burhanuddin. Kesehatan Mental,( Bandung: Pustaka Setia, 1998)
Sururin. Op Cit
Dr.Zakiah Darajat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1983),
Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Op.Cit,
Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental Dalam Islam (Bandung: Mandar Maju, 1989),
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psiokologi Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet 1, 2001)
Naana Syaoid Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bndung: Remaja Rosdakarya, 2003)


[1] Jejen Musfah, Risalah Puasa, Menjadikan Bulan Ramadhan Sebagai Bulan Penuh Pahala, (Yogyakarta : Hijrah, 2004), hlm.22
[2] H. Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam (Jakarta: Attahiriyah, 1954) hlm.216
[3] Jalaludin Rakhmat, Madrasah Ruhaniah Berguru pada Ilahi di Bulan Suci, (Bandung: Mizan Media Utama, 2005), hlm.33
[4] H. Ubaidillah Saiful Akhyar, Dahsyatnya Terapi Puasa (Jakarta: Nakhlah Pustaka, 2007) hlm.21
[5] Syekh Ali Ahmad Al-Jujawi, Hikmah al-Tasyri Wa Falsafatuhu, terj, Hadi Mulyo, CV Asyifa, Semarang 1992, Jilid I, hlm 185
[6] Ibid hal 186
[7] Ibid hlm 191
[8] Ibid., hlm 192
[9] Ibid., hlm 197
[10] Zakiah Drajat, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989), hal 26
[11] Darajat, Puasa meningkatkan Kesehatan Mental, hal.30
[12] Utsman Ibn Hasan Ibn Ahmad al-Syakir, Darroh al-Nashihin, Indonesia : Dar al-Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, ttp, hal 13
[13] Darajat, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, hal.28
[14] Utsman al-syakir, Durroh al-Nashihin, hal 31
[15] Darajat, Puasa Meningkakan Kesehatan Mental, hal 32
[16] Darajat, Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, hal 20
[17] Moh. Ardani, Al-Qur’an dan Sufisme Mangkunegaran IV, (Yogyakarta : Bina Bhakti Waqaf, 1995) hlm.287
[18] Yusak Burhanuddin. Kesehatan Mental,( Bandung: Pustaka Setia, 1998),hlm.9
[19] Sururin. Op Cit , hal. 142
[20] Dr.Zakiah Darajat, Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1983), hlm 13
[21] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Op.Cit, hlm 133
[22] Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental Dalam Islam (Bandung: Mandar Maju, 1989), hlm 7
[23]  Ibid., hlm 8-10
[24] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psiokologi Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet 1, 2001) hlm 133
[25] Naana Syaoid Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bndung: Remaja Rosdakarya, 2003) hlm 148
[26] Ibid., hlm 149
[27] Dadang Hawari, hlm 12-13

 

Catatan Gadis Puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review