TITIK TEMU

Dalam pergumulan ragu dan harap yang menunggu di ujung waktu. Lidah ku kelu saat kau tawarkan opsi itu. Kita sepakat tentang suatu hal yang justru ambigu dan membawa kita pada jalan buntu. Ini bukan tentang rasa yang buru-buru atau tentang intervensi yang menggebu. Ini tentang harap yang menjulang dan tertuju padamu. Kau bisu, aku pun bisu. Kita sama-sama meminang kecemasan di balik pintu.

Dan ternyata kita sama-sama menunggu. .

Kau menunggu ku di seberang waktu, aku pun menunggu mu di ujung jalan itu. Aku yang tak jeli atau kau yang tak rinci memberikan informasi? Lucu memang :-D
Tapi akhirnya, kita pun menemukan titik temu. Titik dimana keyakinan telah bersekutu dengan waktu. Kau genggam tangan ku seraya berbisik..

" Jangan berikrar disini " katamu

Ku anggukan kepala tanda setuju.

Lalu kita berlari bersama keyakinan dan harap yang bergumul menjadi satu.

MEREGUK HARAPAN

Kabar buruk adalah si dengkul yang akan berlabuh pada ketidaktahuan yang memabukkan.  Aku terjebak dalam labirin emosi dan enigma yang tak bertepi.
Segelas air putih dibutuhkan saat ini, hanya segelas air putih.

Aku putuskan untuk menghilang sejenak dari realita yang menawarkan keindahan semu dan senyuman palsu. Tenyata menyenangkan, sebab langkah ku kali ini tidak lagi di jegal oleh kesedihan yang bermuara pada keputusasaan. Setidaknya pada jeda yang sebentar, Ia menawan lidahku untuk tak melontarkan kata- kata yang tak perlu. Pada jeda yang lama, memberi ruang untuk menyelami entitas dari kehidupan yang bergumul dengan waktu.  

Meskipun begitu, hari ini harapan adalah obat yang paling bijak. Mereguk satu harapan sama dengan menelan heroin yang menenangkan. Meskipun kehausan, meskipun...

KEKASIH KEPADA LAUT

Malam ini, aku tak bercinta
Tak bercerita
Aku tau kau kembara
Serupa aku
Tetirah di malam - malam yang purba

Di Wajah waktu
Tubuhku membatu
Tapi, kau tanam cahaya yang begitu purnama di jantungku

Kita memang telah lampau bercinta
Mungkin juga tak sekedar pura -  pura bahagia

Kau tersesat!
Tersesatlah di jalan yang benar.
Ingatlah aku,
Kenanglah langit sepi dengan dermaga di ujungnya
Yang melayarkan tubuh kita.

Pulanglah,
Pulanglah segera sayang
Aku  keram dan pecah di muka pintu

Mungkin  kau tak kembali
Tapi, tak ada yang terlambat
Kedatangan dan kehilangan tak pernah terlambat bukan?

AMBANG BATAS




Ketakutan terbesar ku adalah kehilangan alasan untuk menunggu..




*Dan itu terjadi
*Untuk saat ini
*untuk kamu
 

Catatan Gadis Puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review