Tentang Nay: Perempuan dan Moralitas

Ruangan bioskop itu cukup sepi, hanya saya dan beberapa orang yang jumlahnya bisa dihitung jari. Kami adalah kerumunan jika merujuk pada Le Bon dalam bukunya The Crowd: A study of the Popular Mind (1985), kami adalah sekumpulan orang yang tidak sengaja bertemu dalam satu lokasi yang sama, ruang bioskop. Diantara bangku merah yang disusun panjang berderet, dalam suasana gelap gulita, suara musik keluar dari pengeras suara yang ditempel pada dinding-dinding. Ine Febrianti sebagai “Nayla Kiran” muncul dua dimensi di layar datar, berperan menjadi seorang akrtis baru yang baru saja mengambil hasil pemeriksaan laboratorium masuk ke mobil mini cooper berwarna oranye atau kuning, saya nyaris lupa karena setting latar waktu dalam sinema tersebut adalah malam hari.
​
Nayla menghela nafas, berdialog sebentar dengan bangku kosong disebelahnya, berpura-pura bahwa ibunya ada disebelahnya. Kemudian menyalakan mobil, perjalanannya dimulai, seiring dengan dimulainya cerita dalam sinema ini. Nayla hamil, sebelas minggu, oleh pacarnya Ben (Paul Agusta). Menyetir mobil menyusuri jalan-jalan Jakarta seorang diri, memikirkan nasib kandungannya, nasib dirinya, dan nasib orang-orang disekitarnya. Sebelum memutuskan apa yang hendak ia lakukan dengan kandungannya. Sinema tersebut hanya berdurasi kurang lebih 80 menit tapi menggambarkan realita yang dihadapi perempuan. Bukan hanya di Indonesia, tetapi mungkin juga di seluruh penjuru dunia. Tentang dirinya, nasibnya, tubuhnya, dan keputusannya.

“Mengapa perempuan hamil harus menikah?” kalimat itu keluar dari mulut Rengganis si Cantik, tokoh fiksi dalam Novel Eka Kurniawan berjudul Cantik Itu Luka. Rengganis si Cantik meraung karena dipingit oleh keluarganya yang begitu tahu bahwa gadis ini, perempuan tercantik di Halimun. Perempuan, entah diberkahi atau dikutuk memiliki tabung kehidupan dalam dirinya. Persoalan tubuh perempuan milik siapa, tidak kunjung habis dalam diskursus feminisme, persoalan itulah yang kita hadapi setiap harinya. Dan isu aborsi, isu yang selalu menjadi buah simalakama bagi perempuan yang dipecah menjadi kubu pro-choice dan pro-life.

Carol Gilligan dalam In Different Voice memaparkan tahapan perkembangan moral perempuan yang dianggapnya tidak bisa disamakan dengan laki-laki. Teori ini mengkritik teori gurunya, Lawrance Kohlberg, yang menyatakan bahwa perkembangan moral anak laki-laki membuat anak laki-laki lebih dewasa daripada anak perempuan. Hal ini ditentang oleh Gilligan yang dalam penelitiannya menggunakan sample dari perempuan yang hendak melakukan aborsi dan bagaimana tahapan-tahapan moral yang dilaluinya hingga menghasilkan keputusan final. Penelitian tersebut menghasilkan beda antara etika kepedulian (ethics of care) dengan etika keadilan (ethics of justice). Etika kepedulian milik perempuan, memperlihatkan bahwa dalam mengambil sebuah keputusan, laki-laki akan mengevaluasi dan memilih apa yang dianggap “benar”, sedangkan perempuan akan berada dalam dilema, “keputusan yang tidak menyakiti siapapun”.
 
Saya rasa etika kepedulian dalam teori feminis yang hendak dipaparkan Djenar Maesa Ayu sebagai sutradara dan produser film ini, dimana Nay, dalam mobilnya, mencoba membuat keputusan-keputusan moral yang tidak dilandaskan pada apa yang “benar” saja. Moral yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari adalah moral laki-laki, sedangkan moral perempuan, berusaha dicari sepanjang perjalanan yang dilalui Nay, untuk menentukan apa yang harus dilakukan dengan masa depannya, tanpa melukai siapapun, bayinya, kariernya, teman-temannya, pacarnya, pria lain yang suka padanya, dan terakhir dirinya sendiri.

Tidak hanya etika kepedulian yang bisa kita temukan dalam cerita di sinema tersebut, sinema itu juga memaparkan bagaimana perempuan. Selalu dilihat dalam dua kelompok, perempuan baik-baik dan bukan perempuan baik-baik. Gilanya, hal tersebut diungkapkan bukan oleh laki-laki, melainkan oleh perempuan, pada cerita dalam sinema ini diberikan peran dari Ibu dari Ben, pacar Nay yang telah menghamilinya, dalam dialog di telpon. Kehidupan akrtis, perempuan mandiri, dan perempuan yang tidak perawan bukan perempuan baik-baik, tidak peduli apakah dia tidak perawan karena diperkosa atau memang perempuan penggoda. “Perempuan yang sudah ‘rusak’ itu bersikap sok manis dan berpura-pura menjadi korban, padahal ia hanya mengincar pria mapan untuk bertanggung jawab”, begitu kiranya dialog yang diungkapkan Ibu Ben ketika Nay meminta pertanggungjawaban Ben atas kehamilannya.

Perempuan yang terjebak dalam dikotomi Bitch dan Angel selalu serba salah dalam menghadapi kekerasan seksual. Ketika mengalami perkosaan atau pelecehan, sebagai korban, ia selalu disalahkan hingga dua kali diperkosa. Diperkosa oleh pelaku, dan diperkosa oleh masyarakat. Dan seringkali perkosaan yang dilakukan masyarakat yang justru membuat perempuan hancur dan merasa dia tidak ada harganya lagi. Perkosaan juga menjadi kasus yang serba salah. Dalam cerita di sinema ini, Nay juga adalah korban perkosaan yang dilakukan oleh pacar ibunya, tetapi ibunya enggan melaporkan kasus ini ke polisi karena memikirkan masa depan Nay yang nantinya akan memperoleh cemoohan dari masyarakat apabila mengetahui bahwa Nay adalah korban perkosaan.

Sekelumit permasalahan perempuan berusaha diungkapkan dalam sinema ini. Saya sengaja mengesampingkan hal-hal yang berbau sinematografi karena jelas itu bukan bidang saya. Seperti yang dipilih Djenar, fokus dengan seni sebagai bidangnya berupaya memberikan suara, pengalaman perempuan, kaumnya, dalam media film. Feminisme hadir guna menjadikan pengalaman perempuan sebagai Ilmu. Akhirnya dalam Nay, saya rasakan bahwa Djenar berusaha mengungkapkan pengalaman perempuan ditengah nilai patriarkis. Ethics of care yang selalu dianggap sebagai pengambilan keputusan yang emosional dan jauh dari rasional. Dikotomi bitch dan angel, perkosaan yang seperti gunung es. Nasib perempuan dalam negara hukum yang menganut hukum yang seksis diharapkan melalui film ini, semoga bisa menjadi baik

Gadis Penjual Jeruk

Jika para penjual jeruk berkumpul dan mengutarakan hal yang sama setiap waktu dan setiap hari, maka dunia ini akan menjadi  tempat paling bising yang penuh dengan keluhan harga jeruk yang mahal, jeruk yang busuk, jeruk yang kurang manis, jeruk yang terlalu asam, jeruk yang tidak layak dan pembeli yang menyebalkan. 
Maka jadilah gadis penjual yang biasa saja. Yang diam saja meskipun apa-apa yang ada dalam keranjangnya mendapat banyak masalah. Yang merawat sebaik-baiknya jeruk-jeruk yang dia punya. Yang memperbaiki dapur rumahnya  menjadi tempat paling apik dan terbaik untuk menyimpan keranjang dan jeruknya. Apapun yang menderanya, hanyalah persoalan muka yang bisa diselesaikan di dapur, di belakang punggung orang-orang.

Seorang gadis penjual jeruk yang hari itu didatangi seorang pembeli. Tak begitu lama si pembeli menimbang dan menaruh baik-buruk menarik-tidak menarik jeruk-jeruk itu. Kemudian transaksi mereka berlanjut di jendela. Suasana yang berhasil si pembeli ciptakan menyebabkan si gadis melupakan keranjang, jeruk dan dapur di rumahnya. Mulanya ia bersedia memberikan tangannya, dari tangan si gadis ingin menaruh kepalanya di bahu badan pejal si pembeli. Cerita tidak berhenti di jendela dengan hanya duduk-duduk saja. Di hari yang lain, jendela sudah bisa mereka lompati, dari tangan si gadis yang lemah muncul kekuatan yang tak di duga. Dia maka tahu bahwa tak ada gunanya membangun dapur saja di rumah. Si beranda rupanya minta dipercantik pula. Ia mulai menanti kedatangan sang pembeli. 

Sepahit-pahitnya menelan pil pahit kemelekatan tidak ada yang lebih menyakitkan melihat sang gadis dibawa begitu saja oleh sang pembeli hidung belang. Kemudian sang gadis penjual jeruk berlalu mengikut dan meninggalkan keranjang dan jeruk-jeruk yang membusuk.
Gadis penjual jeruk sudah kehilangan jeruk dan keranjangnya. Saya mulai sedih.

Pembeli mengajaknya kembali lagi ke jendela, katanya dia rindu. Dasar dia tak menunggu sampai semuanya terasa biasa saja. Lalu dia bilang inilah yang namanya rasa, jeruk yang manis itu sampai pada orang yang salah.
Si gadis kini semakin merajalela. Sang pembeli telah memilikinya... manisnya jeruk, manisnya wajah si gadis, manisnya merasai.

Sang gadis kini telah hilang keranjangnya, jeruknya, dapurnya, berandanya dan dia bukan gadis penjual jeruk lagi, bukan sang gadis lagi...


sampailah pada batas sensitif moralitas wanita.....
saya ikut merasakan kecewa, marah, dan sedih. 
Karena ternyata yang kamu punya hanya ego dan nafsu yang kamu bagi dengan mata uang cinta. Jika memang pria adalah pemimpin, maaf. Bagi saya kamu tidak pantas mendapatkan jeruk manis.

Silahkan menjadi penabur, namun taburkanlah iman dan kebaikan kepada dia yang kamu cintai dan ingin kamu jadikan istri. Percuma membicarakan kebenaran kepada orang-orang yang mengelilingimu, karena kebenaran ada dalam tanggungan. 



Kebodohannya pada hari itu adalah, membiarkan sang pembeli membawa tangannya ikut serta dibawa pergi. Bukan jeruk manis yang telah lama dia peram, ia jaga supaya manis dan layak dibeli.



*saat tersesat dalam labirin nafsu, saat menempuh jalan yang berbeda, kendaraan yang paling agung bagi wanita adalah iman. Semoga Tuhan selalu menyanyangi ia, yang sedang lupa memarkir kendaraannya..
 

Catatan Gadis Puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review