Perjalanan Menemukan Diri Sendiri

Aku ingin pulang, tempat ingatan dan kenangan bisa kupindahkan sejenak. Aku ingin pulang kepada diriku sendiri, sebab rumah yang ku bangun di luar sana hanyalah fatamorgana. Semu dan terlalu riuh untuk ku tinggali. 


Aku ingin menepi sejenak, dari hiruk pikuk kepalsuan orang-orang yang berkelakar memberikan janji dan harapan. Menjanjikan tempat aman dan nyaman tapi menguap pada banyak hal.

Ada kalanya kita menyadari bahwa tindakan seseorang mempunyai banyak wajah, dia tak selalu dapat menjadi cermin kebaikan seseorang. Tak dapat kita lihat wajah mana yang sesungguhnya ditampilkan. Samar dan penuh misteri.

Aku ingin merasa pulang, pada orang yang membiarkanku terisak sepanjang malam tanpa perlu bertanya "kenapa". Sebab dalam hidup ada banyak pertanyaan yang tak mempunyai jawaban

Saat ini yang bisa ku andalkan hanyalah diriku sendiri, aku bertanggungjawab atas semua pilihan dan emosi yang ku miliki.
Pun perjalanan yang sedang aku tempuh.
Meskipun saat ini aku tertatih, tak dapat berlari. Namun, pelan tapi pasti, aku menyadari tempat pulang yang paling aman adalah pada diriku sendiri. 

PANTULAN BARU

Aku butuh pantulan-pantulan baru sebab kepalaku penuh. Arus besar tanpa arah hanya membentuk benturan-benturan saja di dalam tempurung. Tidak. Tidak ada nada. Tidak ada irama. Hanya gemuruh yang mengganggu dan pada saat-saat tertentu ketika ia tak bisa terbendung lagi mereka akan menyuruhmu untuk tidur yang berkepanjangan (yang bagiku terdengar menyenangkan dan begitu damai tapi tidak ingin kulakukan dulu saat ini).
Aku berhenti menulis di sini sebab aku pernah berusaha bertingkah layaknya orang-orang seusiaku: jika menulis, menulislah dengan teratur dan dewasa. Dengan tata krama dan alur cerita yang jelas, serta sumber liiterasi agar argumen-argumenmu tidak ditertawai. Namun sayangnya, tekad semacam itu hanya memperburuk kecamuk badai yang semakin hari kupikir hanya akan mengancam sinapsis-sinapsisku yang krisis.
Karenanya aku senang bertemu dengan orang-orang asing. Aku pernah merutinkan diri bertemu dengan orang-orang baru yang tak kukenal sama sekali dan menceritakan apa saja. Sayangnya aku tak lagi bisa serta merta mempercayai orang begitu saja, sebab mulut di tahun-tahun ini bisa juga berarti mencicil maut. Aku mencabut jadwal itu dari catatan kalenderku dan membiarkan diri berbenturan dengan orang-orang yang itu-itu saja. Kadang aku juga bertanya, aku ini mudah bosan atau hanya sedang berusaha melarikan diri dari kesepian.
Karenanya aku kembali lagi ke sini. Aku sedang tidak menulis untuk siapa-siapa kecuali diriku sendiri agar ia bisa menemukan dengan liar pantulannya yang lain. Aku tak bisa menerus bangun pada pukul 3-4 pagi dengan peluh dan kepala yang acak lalu gagal berfungsi sepanjang hari. Mereka memintaku beristirahat tapi otak kita tidak bisa diminta rehat. Aku berkejaran dengan tenggat dan dunia seperti berjalan begitu tergesa-gesa seakan sekarang memang hanya untuk sesaat.
Suatu waktu aku ingin belajar melepaskan diri dari tubuhku lalu menemui diriku sendiri. Mengajaknya minum kopi atau menyesap teh panas daun dan bunga yang diberikan seorang kawan sambil bertanya, apakah kamu memang mampu melalui hari? Kita sudah terlalu banyak berlari tanpa pernah tahu pasti apa yang kita cari.
 

Catatan Gadis Puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review