AROGANSI RASA


Di tengah pengembaraan seluas semesta yang tak pernah ku gapai oleh tanganku yang sehasta atau oleh kakikku yang begitu cepat merasakan lelahnya, terselip sebuah tanda tanya yang mengusik jiwa. Aku mendapati diriku bukanlah diriku yang sebenarnya, aku sadar tetapi seperti tak sadar,  dan aku hidup seperti tak hidup. Hati ku tiba-tiba berhenti untuk memutar, yang ku temukan hanya kau lah yang ada dalam garis imaji dan batas realitasku.
            Sulit bagiku mengatakan bahwa ‘aku jatuh cinta’ karena jiwaku terbiasa dengan kesendirian dan kesunyian. Kesunyian adalah teman abadi ku bercengkrama dengan malam-malam yang panjang, dinding-dinding kamar yang bisu , nyanyian sabda alam yang mengoyak jiwa, dan sepotong imajinasi liar yang menggumpal di relung batin. Ketika aku jatuh cinta, itu berarti aku harus siap mendapati diriku terbaring tanpa koma oleh cinta yang tiada habisnya, harus siap berteman dengan air mata, bahkan terseok oleh cinta yang fana.
            Sosokmu telah menyentuh garis perasaan dan prinsip ku sebagai perempuan Independen. Kau  seperti virus yang menjangkiti seluruh organ dalam tubuhku. Aku terinfeksi! Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana? Membiarkan diriku perlahan terkapar oleh ketidakberdayaan? Atau membunuh secara perlahan virus yang bersemayam? Pahamilah jiwaku secara integral! Bukan parsial dan tanpa makna.

INDEPENDENSI JIWA



Yang ku tahu, kabarnya kita hidup dalam gelombang udara purba yang memberi tanda bahwa tak ada yang tak menua. Janji-janji akan membuatnya semakin pilu, tak selalu bersama juga akan meruntuhkan juga. Namun, aku hanya ingin menjadi busur tanah, atau dari dengkul menjadi pelana. Salahkah? Diam bukan berarti tak peduli. Tidak semua inti hati bisa kau mengerti dan kau telanjangi dengan panca indera. Pernahkah kau berfikir bahwa satu debu pun terdiri dari ribuan sel yang pernah bernyawa? Selalu ada hal yang tidak bisa dipahami nalar karena semua hal memiliki lapis makna yang tak terhingga.

Aku mempunyai pita film abu-abu tentang gambaran diri. Sering kali ku tonton gambar diriku bergerak terbang merendah dan menerima bahwa hanya kau yang ada dalam garis imaji dan batas realitasku. Aku yang selalu tersesat dengan dunia 4 dimensi ku sendiri. Dan kau yang selalu sadar 3 dimensi dunia kita. Kita terpisah oleh sekat yang entah tak terdefinisi. Dan tiada yang lebih pahit dan menyakitkan selain mendapati keterpisahan dan ketidaktahuan yang memabukan. Yang mampu ku baca bahwa kau tau caranya menghibur diri dan bahagia meski kita berada dalam lokomotif yang berbeda. Satu yang menguatkanku, bahwa kita hidup dalam satu pendar cahaya yang sama.

Aku harap kau mau menerimaku menjadi air, tanah, dan udara kapan saja. Aku adalah partikel mandiri yang lahir dari ribuan sel dan bersatu padu membentuk tunggal yang kuat, sehat dan berakar. Sejak lama jiwaku sudah bertransformasi dan merdeka, kau lah konsentrasi ku mengorbit dan melawan rasa takut akan kehampaan. Jika nanti ku tak tau jalan pulang, tarik aku semaumu dengan kendaraan rasio dan logika.

Aku merasakan kebahagiaan paripurna dalam ketidakberdayaanku berani mencinta. Yang aku miliki hanyalah independensi untuk merasa tidak repot saat kau tak ada. Dan aku akan menerima dengan lembut rasa sakit menahan hampa saat sekat semakin membatas. Mungkin suatu hari kita harus pergi sendiri-sendiri. Akan ada kesempatan berbeda, bentuk rupa, cara dan bentuk yang tak sama. Kau akan jadi bayi kecil lebah, aku akan jadi bunga Desember yang semerbak dan mengawal kelahiranmu. Atau aku menjadi bijih Vanili yang lembut menumbuh dan kau manjakan dengan belaian lembut anginmu. Kenapa tidak?

Dalam ruang-ruang kita yang kecil dan rahim dunia  yang maha luas, mutasiku menjadi jiwa baru adalah setiap hari. Tapi tidak dengan muatan maknaku untukmu yang begini saja.
Tahan lama, purba dan tak juga menua...


Untuk R.Dini Dania dan Ineu Inayah, yang selalu percaya bahwa berani mencintai dengan berani adalah bukti independensi.
 

Catatan Gadis Puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review